ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Di tengah persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di Kota Bandung, Kecamatan Sukajadi menunjukkan upaya konkret dengan menerapkan pengelolaan sampah mandiri langsung dari sumbernya. Langkah ini dilakukan untuk menekan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS).
Koordinator Petugas Kebersihan Kecamatan Sukajadi, Sri Sumaryati (58), mengatakan pengelolaan sampah di lingkungan kantor kecamatan dilakukan melalui pemilahan sejak awal. Setiap pagi, petugas kebersihan memisahkan sampah organik dan anorganik sebelum diproses lebih lanjut.
“Kalau sampah organik kita olah sendiri menggunakan komposter dan loseda, sedangkan sampah anorganik dikumpulkan melalui bank sampah,” ujar Sri saat ditemui di Kantor Kecamatan Sukajadi, Jalan Sukamulya No. 4, Kelurahan Sukagalih, Selasa (13/1).
ADVERTISEMENT
Bandung di Ambang Krisis Sampah, Kuota TPA Menyusut dan Waktu Kian Menyempit
Sampah organik berupa sisa makanan dan daun kering diolah menggunakan komposter dan loseda (lubang sedekah dapur). Proses pembusukan dibantu dengan larutan eco enzyme, air beras, dan air gula. Hasil pengolahan berupa pupuk cair dan pupuk padat yang dimanfaatkan untuk kebun kecil di area belakang kantor kecamatan.
“Kita menanam kangkung, bayam, dan beberapa jenis sayuran. Hasilnya dipakai untuk konsumsi sehari-hari petugas. Skalanya masih kecil, jadi belum untuk dijual,” jelasnya.

Selain itu, limbah puntung rokok juga dimanfaatkan agar tidak menjadi sampah residu. Puntung rokok direndam dan diolah menjadi larutan yang digunakan sebagai penyemprot tanaman untuk mengusir hama.
“Air rendaman puntung rokok dipakai untuk menyemprot tanaman supaya hama dan serangga tidak datang. Jadi bisa berfungsi sebagai pestisida alami,” kata Sri.
Sementara itu, sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, kertas duplek, dan besi dikumpulkan melalui bank sampah. Penimbangan dilakukan dua kali dalam sepekan, kemudian sampah diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sebulan sekali. Hasil penjualannya ditabung dan biasanya dicairkan setahun sekali, menjelang Lebaran atau akhir tahun.
“Rata-rata bisa terkumpul lebih dari satu juta rupiah, tergantung jumlah dan jenis sampahnya,” ungkapnya.
Meski demikian, Sri mengakui tidak semua sampah dapat diolah. Sampah residu yang tidak memiliki nilai guna tetap dibuang ke TPS untuk kemudian diangkut oleh DLH. Menurutnya, konsep nol sampah memang belum sepenuhnya dapat diterapkan, namun pengurangan sampah dari sumber dinilai sangat efektif.
“Kalau dari lingkup kecil saja sudah memilah, sampah yang dibuang ke TPS pasti jauh berkurang. Dari sampah juga bisa jadi manfaat, bahkan bernilai ekonomi,” pungkas Sri.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






