KoranMandala.com –Di tengah keterbatasan akses literasi, sekelompok warga RW 09 membuktikan bahwa kepedulian bisa melahirkan perubahan besar.
Dari awalnya hanya berlapak buku di pinggir jalan, komunitas kecil ini menjelma menjadi ruang belajar bernama Saung Diajar Kreatif 09 tempat di mana anak-anak dan warga bisa membaca, belajar, sekaligus menemukan harapan baru.
Kisahnya bermula pada 2012 lewat Komunitas Kreatif 09 yang mengusung slogan “peduli sesama dan lingkungan”. Semangat itu berkembang hingga pada 2014 muncul gagasan membangun taman baca.
Tarik Ulur Legalitas YMT, Polemik Bandung Zoo Berlanjut ke Meja Hijau
Empat tahun kemudian, tepat 16 Maret 2016, lahirlah Taman Baca Kreatif 09 dengan koleksi hanya delapan buku hasil sumbangan tokoh masyarakat dan komunitas seni setempat.
“Dulu sebelum ada saung, kami lapakan buku di pinggir jalan. Sampai ada yang mengira kami sedang jualan buku,” kenang Deni, salah satu pendiri.
Tak butuh waktu lama, donasi buku mulai berdatangan dari berbagai pihak. Amir, salah satu kerabat pendiri, menyumbang 57 buku. Bahkan, Kepala Sekolah SDN Marbud ikut mengirim satu kol dolak setelah melihat unggahan di Facebook.
Sebulan berjalan, warga meminta lebih: les gratis untuk anak-anak. Deni pun bergerak mencari relawan dari kampus-kampus dengan sepedanya. Ia tak hanya merekrut pengajar, tetapi juga menggalang dana untuk aksi sosial, termasuk bantuan masker ke Riau saat kebakaran hutan.
Upaya itu berbuah manis. Relawan dari Universitas Pasundan (Unpas) Setiabudi, Lingga dan Lisdayanti, bergabung dan mengabdi tiga tahun penuh.
Sejak saat itu, taman baca pun bertransformasi menjadi Saung Diajar Kreatif 09 nama yang merefleksikan gubuk sederhana untuk tempat belajar bersama.
