ADVERTISEMENT
Kini, saung tersebut dikelola sekitar 10 relawan lintas profesi: guru, seniman, hingga musisi. Meski tak memiliki struktur organisasi formal, mereka beroperasi dengan izin pemerintah setempat, membuka akses belajar setiap hari, bahkan siap dipanggil secara fleksibel oleh warga.
Namun perjuangan belum selesai. Tantangan terbesar adalah mengubah pola pikir masyarakat tentang literasi.
ADVERTISEMENT
“Banyak yang menganggap literasi itu harus ada buku, padahal buku itu hasil dari literasi,” jelas Deni.
Meski begitu, ia tak kehilangan harapan. “Saya ingin Saung Diajar suatu saat punya sekolah gratis, dengan banyak relawan, tenaga pengajar, dan dana yang cukup,” ucapnya penuh semangat.
Saung Diajar Kreatif 09 pun menjadi bukti nyata: dengan tekad, gotong royong, dan sedikit kreativitas, gerakan literasi bisa tumbuh bahkan dari ruang paling sederhana. (Bagus/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






