ADVERTISEMENT
KoranMandala.com –Di sudut Taman Kartini, aroma sate yang terbakar di atas bara arang sudah akrab dengan para pengunjung sejak puluhan tahun lalu.
Asap tipis mengepul dari gerobak sederhana milik Sufiah, perempuan tangguh yang setia menggantungkan hidupnya di ruang publik ini lebih dari 30 tahun lamanya.
Setiap hari, mulai pukul enam pagi, ia sudah siap menyusun tusukan sate, menyalakan bara, dan menunggu pembeli datang.
ADVERTISEMENT
Misteri Prasasti Cikapundung Tamansari, Jejak Peradaban Sunda yang Belum Terpecahkan
Roda hidupnya berputar dari lapak kecil itu hingga jelang sore, sekitar pukul tiga. Baginya, taman bukan sekadar tempat rekreasi warga, tapi juga napas bagi ekonomi keluarganya.
“Kalau jualan di sini enak, ramai. Pernah coba pindah ke luar Taman Kartini, tapi tidak seramai di sini,” ucap Sufiah, sambil tersenyum di balik kepulan asap sate.
Minggu pagi menjadi momen yang paling ditunggu. Saat langit cerah, taman dipadati warga yang berolahraga atau sekadar jalan santai, dan sate Sufiah hampir selalu jadi pilihan.
Di hari-hari biasa, ia lebih banyak melayani pelajar yang beraktivitas di sekitar taman.
Meski sudah puluhan tahun berdagang, Sufiah tidak pernah menghitung berapa porsi sate yang ludes setiap harinya. “Yang penting bisa jualan lancar, bisa buat makan keluarga,” katanya lirih, sederhana, dan penuh syukur.
Namun, di balik keriuhan dagangan dan tawa pengunjung, tersimpan kegelisahan. Sejak tak ada lagi petugas kebersihan dari pemerintah kota, kondisi taman bergantung pada kesadaran warga dan pedagang.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






