KORAN MANDALA – Swastamita 2026 sukses menghadirkan peragaan busana yang memadukan kekayaan budaya Indonesia dengan sentuhan modernisasi. Mengusung tema Svara Swarnaka, kegiatan yang diselenggarakan oleh mahasiswa Telkom University ini menjadi ruang bagi para desainer muda untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mengembangkan nilai-nilai tradisional melalui karya fashion kontemporer.
Berbeda dari penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya yang berlangsung di hotel maupun ballroom, peragaan busana Swastamita 2026 kali ini digelar di Laswi Heritage pada 31 Oktober 2026. Pemilihan lokasi tersebut menjadi salah satu upaya panitia untuk menghadirkan suasana baru sekaligus memperluas jangkauan acara kepada masyarakat.
Ketua Pelaksana Swastamita 2026, Salsa, menjelaskan bahwa tema “Svara Swarnaka” dipilih dengan menggabungkan unsur budaya Indonesia dan modernisasi. Melalui tema tersebut, pihak penyelenggara ingin menunjukkan bahwa budaya tradisional tidak harus ditinggalkan seiring perkembangan zaman, tetapi dapat terus dikembangkan dan berinovasi mengikuti perubahan zaman.
Dalam pelaksanaannya, Swastamita 2026 melibatkan sebanyak 112 desainer dari lingkungan internal Telkom University. Selain itu, penyelenggara juga membuka kesempatan submission bagi peserta dari luar negeri untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
SWASTAMITA 2025: Perpaduan Tradisi dan Modernitas dalam Rites Disrupted: Fragments of the Past
Tidak hanya menghadirkan peragaan busana, Swastamita 2026 juga menyelenggarakan rangkaian kegiatan lainnya. Pada 29 dan 30 Oktober, acara telah diisi dengan kegiatan exhibition atau pameran yang menampilkan berbagai karya mahasiswa tingkat akhir serta karya dari rekanan. Selain itu, tersedia pula area bazar yang menghadirkan produk makanan dan minuman (F&B) serta berbagai mitra UMKM.
Salah satu karya yang menarik perhatian dalam peragaan busana tersebut datang dari Rania Fahmi, mahasiswa desainer yang mengangkat konsep futuristik. Dalam karyanya, Rania menggunakan material denim dan faberol yang diolah menjadi benang untuk kemudian dirajut menggunakan teknik crochet. Perpaduan material dan teknik tersebut menghasilkan karya fashion kontemporer dengan gambaran visual yang merepresentasikan masa depan.
Rania menjelaskan bahwa melalui desain yang ditampilkannya, ia ingin menyampaikan bahwa teknik rajut sebagai salah satu teknik tradisional memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Menurutnya, teknik tradisional tidak harus selalu menghasilkan karya dengan kesan klasik, tetapi juga dapat diperbarui menjadi produk yang lebih modern dan relevan dengan perkembangan dunia fashion.
Dalam proses pembuatannya, Rania mengaku bahwa tantangan yang dihadapi tidak terlalu besar. Namun, salah satu hal yang cukup membutuhkan perhatian adalah proses pemilihan material yang tepat untuk dijadikan benang crochet agar dapat menghasilkan karya sesuai dengan konsep yang telah direncanakan.
Swastamita 2024 Bertema SAMANVAYA Kembali Digelar Prodi Kriya Tekstil dan Fashion Telkom University
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






