ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Selama lebih dari satu dekade, strategi konten digital berpusat pada satu rumus sederhana: pilih kata kunci informasional, tulis artikel 500 kata dengan daftar 5–10 poin, optimalkan SEO, dan tunggu trafik mengalir.
Konten evergreen, seperti: panduan “cara mengatasi XYZ”, daftar rekomendasi, definisi istilah, menjadi primadona karena bisa mendatangkan pengunjung berbulan-bulan tanpa perlu diperbarui. Dan konten ringan (lite content) berisi informasi umum dengan 300–500 kata menjadi taktik efisien untuk mengisi volume trafik harian.
Namun, data sepanjang 2025–2026 menunjukkan bahwa rumus itu sudah tidak berlaku lagi. Bukan karena konten evergreen tidak lagi dibutuhkan, tetapi karena mesin pencari dan perilaku pengguna telah berubah secara fundamental, dan perubahan itu bakal meninggalkan banyak situs yang tidak beradaptasi.
ADVERTISEMENT
Kejutan Pertama: Konten Evergreen Kini “Disadap” di Halaman Hasil
Dulu, pengguna yang mencari “cara mengatasi sakit kepala” harus mengklik tautan, membaca artikel, menyaring iklan, dan menarik kesimpulan sendiri. Kini, Google menampilkan ringkasan AI (AI Overviews) langsung di bagian atas halaman hasil pencarian, lengkap dengan langkah-langkah ringkas yang dihimpun dari berbagai sumber.
Dampaknya terhadap klik sangat drastis. Studi Ahrefs terhadap 300.000 kata kunci menunjukkan bahwa posisi pertama pencarian kehilangan 58% klik ketika AI Overviews muncul di halaman hasil, turun dari penurunan 34,5% pada April 2025 menjadi 1,6% rata-rata click-through rate (CTR) pada Desember 2025. Penelitian lain yang menggunakan data Google Search Console memvalidasi temuan ini .
Bahkan, eksperimen acak terkendali yang dilakukan peneliti Indian School of Business dan Carnegie Mellon University terhadap 1.065 pengguna menemukan bahwa kehadiran AI Overviews meningkatkan tingkat pencarian tanpa klik (zero-click search) dari 54% menjadi 72% .
Para peneliti menyimpulkan: “AI Overviews mengalihkan lalu lintas dari penerbit tanpa memberikan peningkatan yang terukur pada pengalaman pengguna.” Pengguna terbantu dengan ringkasan pendek AI Overview, tapi tetap akan merasa haus terhadap informasi yang lebih mendalam.
Kunjungan Website Turun Hingga 60 Persen, Era ‘Tanpa Klik’ Dimulai
Konfirmasi Angka: Bukan Kasus Terisolasi, Tapi Tren Global
10 media teknologi besar AS kehilangan trafik dari 112 juta kunjungan per bulan (puncak) menjadi kurang dari 50 juta pada Januari 2026. Digital Trends anjlok 97% (dari 8,5 juta menjadi 264.861 kunjungan per bulan).
The Verge, ZDNet, dan HowToGeek kehilangan lebih dari 85% trafik pencarian dalam dua tahun.
Penurunan trafik organik 20–40% dilaporkan oleh berbagai ritel, penerbit berita, dan agensi pemasaran sepanjang 2025, dengan sebagian besar berasal dari hilangnya lalu lintas pencarian organik.
Di Jepang, 39,2 miliar dari 61,8 miliar pencarian (63,5%) di Google pada September 2025 berakhir tanpa satu klik pun ke situs eksternal.
Penurunan trafik rujukan Google untuk lebih dari 2.500 situs dalam jaringan Chartbeat tercatat 33% secara global dan 38% di AS.
Vulnerabilitas Konten Evergreen & Ringan
Secara teknis, konten evergreen dan konten ringan (lite content) memiliki karakteristik yang justru membuatnya paling rentan diserap AI. Konten evergreen informasional secara inheren mudah dihimpun dan diringkas AI karena terdiri dari fakta-fakta yang sudah terdokumentasi baik, dan fakta-fakta konsensus dapat disintesis lintas sumber.
Penelitian Semrush mengonfirmasi bahwa “hampir semua kata kunci yang memicu AI Overviews bersifat informasional (info umum).”
Sementara itu, konten ringan (500 kata ke bawah) menghadapi tekanan ganda. Analisis Raptive terhadap situs-situs usai Core Update Desember 2025 menemukan bahwa situs dengan proporsi konten tipis (thin content) lebih dari 32% dari total halaman mengalami penurunan stabilitas signifikan, sedangkan situs dengan proporsi konten tipis di bawah 7% menunjukkan kinerja yang lebih stabil dan tahan terhadap fluktuasi algoritma.
Instagram vs TikTok: Mana yang Lebih Menguntungkan untuk Mencari Uang di 2026?
Celah: Era Kualitas dan “Kelayakan Sitasi/Kutipan”
Temuan penting: konten yang baik tidak mati, ia hanya berubah fungsinya. Google memperkenalkan pembaruan besar sepanjang 2025, dimulai dengan Core Update Maret 2025 yang mengurangi visibilitas konten berkualitas rendah dan tidak orisinal.
Lalu diikuti Pembaruan Google di Juni 2025 yang mengonfirmasi bahwa AI Overviews hanya mengutip konten yang kredibel dan terstruktur dengan baik, sementara halaman tipis (thin content) atau tidak terverifikasi tidak memiliki peluang.
Gelombang terakhir, Core Update Desember 2025, menegaskan bahwa konten tipis dikaitkan dengan penurunan kinerja secara statistik, dan analisis konten menunjukkan bahwa konten yang selalu diperbarui mengungguli konten statis hingga 100%.
Yang terbaru, Pembaruan Spam Maret 2026 memperkuat pertarungan Google terhadap konten berkualitas rendah di semua bahasa, dengan artikel yang tidak memiliki wawasan orisinal atau hanya diterbitkan untuk visibilitas berisiko terkena penalti atau dihapus dari indeks.
Analisis JetDigitalPro terhadap 600.000 halaman menemukan bahwa situs yang mengandalkan konten AI generik tanpa pengawasan editorial manusia mengalami penurunan trafik 60–80% .
Namun, temuan paling signifikan adalah bahwa sumber yang dikutip dalam AI Overviews menerima 35% lebih banyak klik organik dibandingkan merek yang tidak dikutip. Ini menandakan pergeseran dari mengejar peringkat menjadi mengejar kelayakan sitasi.
Skenario Masa Depan: Dua Lintasan Evolusi
Lapisan pertama, skenario paling mungkin, adalah polarisasi konten: konten evergreen yang dangkal akan tersisih ke “zona tidak terindeks” dan hanya dapat diakses melalui pencarian langsung di laman webnya atau hanya akan mendapat trafik dari direct sharing di sosial media.
Sementara konten evergreen yang dalam, berkala diperbarui, dan kaya data orisinal akan menjadi “sumber emas” yang terus-menerus dikutip AI, menghasilkan visibilitas tinggi meskipun klik langsung menurun.
Lapisan Kedua, optimistis, adalah kebangkitan engagement: AI Overviews memicu efek pembersihan audiens. Northwestern University mencatat bahwa meskipun klik menurun, konversi justru meningkat karena pengunjung yang tersisa adalah mereka yang benar-benar mencari solusi mendalam, bukan sekadar jawaban instan.
Para peneliti menekankan bahwa “engagement sedang berubah, dan perubahan itu membawa kita kembali ke tempat yang seharusnya, semua tentang pengguna.”
Pertama, redefinisi konten evergreen menjadi konten dinamis dengan siklus pembaruan maksimal 90 hari.
Kedua, menghilangkan akumulasi konten ringan (500 kata ke bawah) secara masif melalui konsolidasi, penghapusan, atau penggabungan dengan halaman lain.
Ketiga, mengintegrasikan data orisinal, kutipan ahli terverifikasi, dan studi kasus sebagai “prasyarat kelayakan sitasi”.
Keempat, mengalihkan metrik keberhasilan dari klik dan tayangan ke kontribusi sumber dan engagement. ***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






