KORANMANDALA.COM – Satu pertanyaan terus menghantui para kreator konten di Indonesia: apakah lebih baik fokus membangun audiens di Instagram atau TikTok jika tujuannya adalah menghasilkan uang?
Jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Data terbaru dari berbagai lembaga riset global menunjukkan bahwa kedua platform memiliki kekuatan yang sangat berbeda dan sering kali saling melengkapi.
Berikut perbandingan komprehensif berdasarkan data terkini yang dilansir dari berbagai sumber.
Industri Geospasial Nasional Diuntungkan dengan Hadirnya Proyek Pemetaan ILASPP
Pertarungan Engagement yang Tidak Seimbang
Dari sisi keterlibatan audiens, pertarungan ini bahkan tidak pernah berlangsung imbang.
Berdasarkan laporan 2026 Social Media Benchmarks dari Socialinsider, yang menganalisis lebih dari 70 juta postingan selama periode 2024-2025.
TikTok mencatatkan tingkat engagement (interaksi per postingan) sebesar 3,70% pada 2025, naik 49% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Instagram hanya mencapai 0,48% dengan pertumbuhan yang nyaris stagnan.
Artinya, satu konten di TikTok berpotensi menghasilkan interaksi tujuh kali lebih banyak dibandingkan di Instagram. Bahkan, pada kuartal keempat 2025, tingkat engagement median TikTok sempat menyentuh angka 27,6% sebelum stabil di kisaran tersebut.
Perbedaannya juga terlihat dari metrik per postingan. TikTok rata-rata mendapatkan 3.492 like dan 248 share per konten, naik masing-masing 12% dan 45%. Sebaliknya, Instagram justru mengalami penurunan jumlah like per postingan hingga 15% (menjadi 335 per posting).
Namun, ada satu kejutan: meskipun engagement di Instagram menurun, rata-rata tayangan per postingan di platform tersebut justru meningkat 29% menjadi 3.403 tayangan.
Ini menunjukkan algoritma Instagram masih efektif menjangkau lebih banyak orang, meskipun interaksi dari mereka yang melihat cenderung berkurang. Namun TikTok masih unggul dengan rata-rata 6.496 tayangan per postingan.
Local Feed, Cara Baru Mencari Konten Lokal di TikTok
Monetisasi Langsung, Siapa yang Membayar Lebih Tinggi per Tayangan?
Ketika berbicara tentang setoran uang langsung dari platform ke kantong kreator, perbandingannya bergeser. Pendapatan kreator ini sangat bervariasi tergantung wilayah negara dan jenis konten.
TikTok melalui Creator Rewards Program (yang menggantikan Creator Fund lama sejak 2024) membayar kreator dengan skema yang cukup transparan. Untuk video berdurasi lebih dari satu menit yang memenuhi syarat, diperkirakan TikTok membayar $0,40 hingga $1,00 per 1.000 tayangan.
Artinya, video yang viral dengan satu juta tayangan di Tiktok menghasilkan antara $400 hingga $1.000 (sekitar 6,5 hingga 16 juta Rupiah, tergantung kurs).
Untuk kreator di niche bernilai tinggi seperti keuangan, teknologi, atau edukasi, pendapatan per 1.000 tayangan bisa mencapai $2,50 hingga $6,00—atau $2.500 hingga $6.000 per juta tayangan.
Program “Additional Reward” yang diluncurkan TikTok pada 2025 juga memberikan bonus tambahan di atas pendapatan standar, yang sering kali nilainya sama atau bahkan lebih besar dari pendapatan dasar.
Syarat untuk bergabung: 10.000 pengikut dan 100.000 tayangan video dalam 30 hari terakhir.
Instagram, di sisi lain, tidak memiliki program berbagi pendapatan iklan yang terbuka untuk semua. Platform besutan Meta ini pada 2023 menghentikan program Reels Play Bonus yang dulu menjadi andalan banyak kreator.
Program tersebut bersifat undangan (invite-only) dan ketika masih berjalan, membayar $1 hingga $8 per 1.000 tayangan, dengan beberapa kreator melaporkan pendapatan mencapai $1.200 per juta tayangan.
Namun sejak 2025, Instagram tidak lagi menerima pendaftar baru untuk program ini di wilayah utama seperti Amerika Serikat dan India.
Kini, Instagram hanya menyisakan program bonus musiman yang bersifat terbatas dan berdasarkan undangan, seperti “Spring Bonus” atau “Breakthrough Bonus” untuk kreator baru.
Instagram membayar lebih tinggi per tayangan jika Anda berhasil masuk ke program bonus mereka, tetapi aksesnya sangat terbatas.
TikTok membayar lebih rendah per tayangan (kecuali untuk niche premium), tetapi programnya terbuka bagi siapa pun yang memenuhi syarat dan jauh lebih stabil.
Ladang Emas E-commerce, TikTok Shop Mengguncang Pasar
Di sinilah pertarungan sesungguhnya terjadi. Data e-commerce menunjukkan bahwa TikTok telah merevolusi cara orang berbelanja.
Laporan dari Momentum Works (Februari 2026) menunjukkan bahwa TikTok Shop global mencatatkan GMV (total nilai barang) mencapai US$ 643 miliar pada 2025, meningkat 94% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, Indonesia menjadi bintang kedua. Dengan nilai US$ 131 miliar pada 2025, Indonesia adalah pasar TikTok Shop terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (US$ 151 miliar).
Lebih menggembirakan lagi, pasar Indonesia tumbuh 111% year-on-year, berkat integrasi mendalam dengan platform lokal Tokopedia.
Secara regional, TikTok Shop di Asia Tenggara membukukan GMV US$ 456 miliar pada 2025—melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tertinggi terjadi di Malaysia (132%) diikuti Thailand.
Yang menarik, “TikTok Shop” bukan hanya tentang berbelanja impulsif saat scrolling. Laporan menunjukkan bahwa pada 2025, kontribusi dari fitur “Toko” (di mana pengguna secara aktif mencari produk) telah mencapai hampir 40% dari total transaksi di Asia Tenggara.
Ini menandakan pergeseran perilaku konsumen dari pembelian impulsif ke kebiasaan berbelanja yang lebih terencana.
Bagaimana dengan Instagram? Instagram tetap menjadi platform yang kuat untuk social commerce. Fitur Instagram Shop memungkinkan kreator dan bisnis menjual produk langsung dari unggahan mereka.
Namun, tidak ada data agregat yang setara dengan GMV TikTok Shop yang menunjukkan skala sebesar itu.
Instagram lebih unggul untuk penjualan produk bernilai tinggi (high-ticket items) dan branding premium, tetapi TikTok Shop telah menciptakan ekosistem volume tinggi yang tidak tertandingi.
Data sponsor dan engagement juga mendukung dominasi TikTok. Rata-rata engagement rate untuk micro-influencers di TikTok mencapai 7,1% , dibandingkan Instagram yang hanya 0,68% .
Artinya, untuk setiap 100 pengikut, TikTok mengirimkan hampir 10 kali lebih banyak interaksi, sebuah metrik yang sangat dihargai oleh pengiklan.
Farida Nurhan Jual Kanal Youtubenya Rp10 Miliar? Pindah Haluan dari Youtube ke TikTok
Pendapatan Kreator, Siapa yang Paling Kaya?
Data tentang pendapatan kreator menunjukkan gambaran yang lebih beragam.
Menurut daftar Forbes Top 50 Richest Creators 2025, 50 kreator terkaya di Instagram, TikTok, dan YouTube secara kolektif menghasilkan pendapatan sekitar US$ 853 juta, naik 18% dari rekor tahun sebelumnya.
Namun, yang lebih relevan untuk kreator biasa (bukan superstar) adalah data median pendapatan. Sebuah laporan tahun 2025 menunjukkan bahwa pendapatan median kreator TikTok mencapai US$ 131.000 per tahun, dibandingkan Instagram sebesar US$ 105.000.
Ini menunjukkan bahwa banyak kreator di TikTok yang berhasil membangun pendapatan yang solid untuk jangka panjang, bukan hanya segelintir kreator papan atas.
Sumber pendapatan juga berbeda:
· Sponsorship / Brand Deals: Instagram masih menjadi raja. Kreator dengan 10.000-100.000 pengikut bisa mendapatkan $250 hingga $5.000+ per postingan sponsor.
TikTok untuk ukuran audiens yang sama rata-rata $100 hingga $2.500+. Perbedaannya karena Instagram dianggap platform yang lebih premium untuk branding, cocok untuk produk kecantikan, fashion, dan gaya hidup mewah.
· Live Gifts (TikTok) vs Live Badges (Instagram): TikTok memiliki ekosistem live gifting yang sangat masif. Penonton mengirimkan “Koin” virtual yang bisa ditukar kreator menjadi uang tunai (dengan potongan platform sekitar 50%).
Di Instagram, sistem Badges memungkinkan penonton membeli lencana seharga $0,99, $1,99, atau $4,99 sebagai bentuk dukungan, Instagram mengklaim bahwa kreator menerima 100% pendapatan dari Badges setelah dipotong biaya toko aplikasi (30% dipotong oleh Google dan Apple).
Potensi pendapatan dari live sangat tergantung pada tingkat keterlibatan audiens, namun TikTok memiliki kultur tipping yang jauh lebih kuat, terutama di Asia Tenggara.
· Subscriptions: Kedua platform memiliki fitur langganan berbayar untuk konten eksklusif. Instagram memerlukan 10.000 pengikut untuk mengaksesnya (di beberapa wilayah), sementara TikTok mensyaratkan 1.000 pengikut untuk LIVE Gifts dan 10.000 pengikut untuk Subscriptions.
TikTok memiliki pintu masuk yang lebih rendah untuk kreator pemula.
Pendapatan Iklan dan Proyeksi Masa Depan
Salah satu faktor yang paling menentukan keberlanjutan platform adalah seberapa besar pendapatan iklan yang mereka hasilkan—karena pada akhirnya, uang yang dibagikan ke kreator berasal dari sana.
Data dari Statista dan Shopify menunjukkan proyeksi yang mencengangkan: pendapatan iklan global TikTok diproyeksikan mencapai US$ 33,12 miliar pada 2025, naik 40,4% dari tahun sebelumnya.
Pada 2026, diproyeksikan naik menjadi US$ 43,96 miliar, dan pada 2027 menembus US$ 53,95 miliar. Untuk konteks, pendapatan iklan TikTok pada 2020 hanya US$ 2 miliar, artinya meningkat lebih dari 2.500% dalam tujuh tahun.
Pasar Amerika Serikat tetap menjadi yang terbesar, dengan proyeksi pendapatan iklan mencapai US$ 11,8 miliar pada 2025 (naik 21%) dan US$ 13,4 miliar pada 2026.
TikTok juga menunjukkan return on ad spend (ROAS) 4,2 kali lipat jika memperhitungkan dampaknya terhadap penjualan Amazon.
Sementara itu, Meta (induk Instagram) secara keseluruhan tetap menjadi raksasa iklan digital, dengan pendapatan iklan global yang diproyeksikan mencapai sekitar US$ 160-170 miliar pada 2025 lintas semua platformnya (Facebook, Instagram, WhatsApp).
Namun, yang membedakan adalah bahwa TikTok mengarahkan lebih banyak pendapatan iklannya langsung ke kantong kreator melalui Creator Rewards Program, sementara Instagram lebih mengandalkan model sponsor dan afiliasi.
Strategi Terbaik, Apakah Perlu Memilih Salah Satu?
Para kreator paling sukses di dunia tidak memilih salah satu platform. Mereka memanfaatkan keduanya secara sinergis.
Menurut berbagai sumber industri, strategi yang paling direkomendasikan untuk 2026 adalah:
1. Gunakan TikTok untuk pertumbuhan audiens dan e-commerce. Algoritma TikTok yang kuat dapat melontarkan konten Anda ke jutaan orang bahkan tanpa pengikut awal. TikTok Shop kemudian menjadi mesin uang yang langsung terintegrasi.
2. Gunakan Instagram untuk membangun kredibilitas dan pendapatan sponsor jangka panjang. Instagram adalah tempat di mana brand besar mencari mitra untuk kampanye premium. Bahkan, laporan dari Kenya menunjukkan bahwa meskipun TikTok memiliki jangkauan lebih luas, kreator di Kenya justru menghasilkan pendapatan lebih tinggi di Instagram karena tingginya nilai sponsor.
3. Bangun diversifikasi pendapatan. Jangan mengandalkan satu sumber. Kombinasikan pendapatan iklan (TikTok Rewards), afiliasi (Instagram Shop/TikTok Shop), sponsor, live gifts, dan penjualan produk digital seperti PDF, template, atau kursus online.
Jadi Mana yang Terbaik untuk Mencari Uang?
Jika Anda memaksa penulis untuk memilih satu—jawabannya tergantung pada tahap perjalanan sebagai kreator.
Pilih jika:
· Baru memulai dan belum memiliki audiens.
· Ingin langsung menjual produk melalui e-commerce terintegrasi.
· Ingin memanfaatkan live streaming yang sangat menguntungkan.
· Ingin pendapatan dari program iklan yang stabil dan transparan.
· Target audiens Anda adalah Generasi Z dan milenial muda.
Pilih Instagram jika:
· Memiliki produk atau jasa bernilai tinggi (konsultasi, kursus premium, properti, kendaraan).
· Ingin bermitra dengan brand besar untuk kampanye jangka panjang.
· Membangun personal branding di niche profesional atau gaya hidup mewah.
· Audiens Anda cenderung lebih dewasa dan memiliki daya beli lebih tinggi.
Yang terbaik, Gunakan keduanya!
Sumber daya kreator yang paling cerdas pada 2026 adalah mereka yang memahami kekuatan masing-masing platform dan menggunakannya secara sinergis.
TikTok untuk pertumbuhan cepat dan volume transaksi. Instagram untuk kredibilitas dan margin tinggi.
Gabungan keduanya menciptakan ekosistem pendapatan yang jauh lebih stabil dan menguntungkan daripada hanya mengandalkan satu platform. ***
*) Sumber data dalam artikel ini berasal dari laporan Socialinsider (2026), Momentum Works (2026), Statista, Shopify, Forbes Top Creators 2025, dan berbagai laporan industri lainnya yang dirilis antara 2025-2026.
