Ragam

Menjemput Rezeki dan Mempertahankan Tradisi di Pasar Kaget Cipadung Bandung

KORANMANDALA.COM – Setiap Minggu pagi, pasar kaget di Jalan Desa Cipadung, Kec. Cibiru, Kota Bandung, dipadati aktivitas pedagang dan warga yang memenuhi ruas jalan.

Di antara deretan pedagang kebutuhan harian di pasar ini, Didi (53) menggelar dagangan yang berbeda. Di atas tikar sederhana, ia menata berbagai atribut kesenian dan alat musik tradisional Sunda yang menarik perhatian pengunjung, terutama anak-anak yang melintas.

“Ini ada 4 rupa. Ada dogdog yang besar, dogdog yang kecil, topeng yang gede, sama topeng yang kecil, selain itu ada juga angklung, calung, terompet. Terompetnya itu terompet kreasi buat anak-anak,” kata Didi menguraikan barang dagangannya di lokasi, Minggu (12/4/2026).

Didi mengaku hanya berjualan pada momen pasar kaget yang hadir setiap Minggu pagi. Ia tidak membuka lapak di hari lain dan memanfaatkan keramaian akhir pekan sebagai waktu utama untuk menawarkan dagangannya.

“Saya jualan hari Minggu aja, di pasar kaget ini, kalau hari-hari biasa gak jualan,” ujarnya.

Ia memilih berjualan di pasar kaget karena mempertimbangkan kondisi yang lebih terkendali dibandingkan dengan acara hiburan atau pertunjukan adat. Menurutnya, situasi di keramaian pertunjukan kerap berisiko terhadap barang dagangannya.

“Saya gak berani jualan di acara-acara hiburan adat, takut rusak dagangan kayak keinjek-injek penonton, orang yang ngamuk,” katanya.

Harga yang ditawarkan Didi bervariasi, menyesuaikan kualitas dan ukuran barang. Sebagian besar dijual dengan harga yang relatif terjangkau bagi pengunjung pasar kaget.

“Harganya kisaran Rp50 ribu yang saya jual. Kalau yang bagus mahal harganya bisa sampai Rp500 ribu,” ujarnya.

Di balik aktivitas jualannya, Didi menyimpan alasan yang bersifat personal. Ia mengatakan barang-barang yang dijual merupakan turunan dari orang tuanya yang kini sudah tidak lagi bisa beraktivitas seperti sebelumnya.

“Ini barang-barang turunan dari orang tua saya. Karena orang tua saya sudah sepuh, sudah stroke. Jadi saya yang berjuang jualan ini buat kedua orang tua saya yang sedang butuh biaya pengobatan,” katanya.

Meski begitu, Didi mengaku masih menghadapi keraguan dari sebagian pengunjung, terutama para orang tua ketika anak-anak tertarik pada dagangannya. Ia menyebut persepsi negatif terhadap alat kesenian kerap menjadi pertimbangan tersendiri bagi para calon pembeli.

“Banyak orang tua yang ragu beliin anaknya. Topeng misalkan, dianggap ada ‘isi’ atau ‘hantuan’, padahal ini kan kreasi topeng sebagai bentuk seni dan budaya,” ujarnya.

Namun demikian, ia tetap mempertahankan usahanya sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan kesenian tradisional Sunda di tengah perubahan zaman. Ia berharap pengenalan atribut kesenian kepada anak-anak dapat menjaga keberlanjutan nilai budaya tersebut.

“Barang-barang seperti ini kan udah lumayan klasik, tapi saya harap ini jadi bagian dari perjuangan saya untuk terus menghidupkan kesenian dan budaya khususnya di kalangan anak-anak,” katanya.

Kehadiran Didi di pasar kaget Cipadung menjadi bagian dari aktivitas rutin yang mengisi ruang jalan setiap akhir pekan. Dalam waktu yang terbatas, ia menjalankan usaha yang tidak hanya memberi tambahan penghasilan, tetapi juga menjaga agar atribut kesenian tetap hadir di tengah masyarakat, terutama bagi generasi muda.

Share

Recent Posts