KORAN MANDALA – Bau tidak sedap dari saluran pembuangan limbah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Campaka 01 dikeluhkan warga Desa Campakasari, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta.
Keluhan tersebut turut memunculkan kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi lingkungan dan potensi dampaknya terhadap sumber air yang digunakan sehari-hari.
Menindaklanjuti aduan tersebut, Polsek Campaka mendatangi lokasi untuk memeriksa instalasi pengolahan air limbah (IPAL), Senin (26/10/2026).
Berdasarkan hasil pengecekan, air limbah dari dapur SPPG diketahui dialirkan menuju Sungai Ciherang melalui selokan milik warga. Saluran tersebut sebelumnya sempat mengalami rembesan sehingga air meresap ke tanah dan dikhawatirkan memengaruhi kualitas air sumur bor masyarakat.
Dalam laporan kepolisian disebutkan, rembesan terjadi saat pekerjaan penggalian kabel PLN. Saluran yang bermasalah itu kemudian disebut telah diperbaiki oleh pihak PLN.
Meski demikian, persoalan bau tidak sedap masih menjadi perhatian. Vendor IPAL, Iwan, menjelaskan bahwa instalasi biotank berkapasitas 3.000 liter mengalami kelebihan beban limbah. Kondisi tersebut menyebabkan penumpukan endapan yang memicu munculnya bau.
Penggunaan sabun cuci atau deterjen untuk membersihkan ompreng makanan juga disebut menjadi salah satu faktor yang memicu penumpukan endapan.
Sementara itu, mitra SPPG Campaka 01, Aif Padilah, mengatakan perbaikan dan optimalisasi IPAL telah dilakukan sejak 5 September 2026 oleh PT Hydroterra Tech Solution. Pekerjaan tersebut dilaksanakan saat dapur tidak beroperasi, yakni pada Sabtu dan Minggu.
Saat pemeriksaan berlangsung, proses pembersihan endapan dan perbaikan IPAL masih dilakukan. Pihak vendor juga berencana memasang filter permanen untuk membantu mengurangi penumpukan endapan dan menekan bau tidak sedap.
Penanganan limbah menjadi perhatian karena operasional dapur MBG berlangsung di lingkungan permukiman warga. Selain memastikan penyediaan makanan bergizi berjalan baik, pengelola juga perlu menjaga kebersihan dan sanitasi agar aktivitas dapur tidak mengganggu masyarakat sekitar.
Warga berharap perbaikan IPAL dapat mengatasi persoalan bau yang dikeluhkan. Pemantauan terhadap hasil perbaikan juga diperlukan untuk memastikan masalah tersebut tidak kembali berulang.
Selain itu, pemeriksaan kualitas air sumur perlu dipertimbangkan apabila terdapat indikasi pencemaran. Dengan demikian, kekhawatiran warga dapat dijawab berdasarkan hasil pengujian, bukan hanya dugaan.
Efektivitas perbaikan dan rencana pemasangan filter permanen kini menjadi hal yang perlu dipantau untuk memastikan pengelolaan limbah SPPG Campaka 01 berjalan sesuai kebutuhan sanitasi lingkungan.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






