ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Masalah kesehatan mental semakin menjadi perhatian serius di kalangan anak muda seiring meningkatnya tekanan akademik, tuntutan sosial, dan paparan media digital.
Kondisi ini membuat generasi muda rentan mengalami stres, kecemasan, hingga kelelahan emosional dalam kehidupan sehari-hari.
Psikolog Jean M. Twenge dari San Diego State University dalam penelitiannya menjelaskan bahwa perubahan gaya hidup digital, terutama meningkatnya penggunaan gawai dan media sosial, berkaitan dengan naiknya risiko masalah kesehatan mental pada anak muda.
ADVERTISEMENT
Penataan Setengah Hati, BRT Bandung Terancam Jadi Wacana Ulang
Tekanan tersebut semakin terasa di era digital, ketika anak muda kerap dituntut untuk selalu produktif dan terlihat “baik-baik saja”.
Media sosial sering menampilkan standar hidup yang tidak realistis, sehingga mendorong individu untuk terus membandingkan diri dengan orang lain.
Andrew K. Przybylski, peneliti psikologi dari University of Oxford, menyebutkan bahwa situasi ini memicu fenomena fear of missing out (FOMO), yaitu rasa takut tertinggal yang dapat menimbulkan stres, kecemasan, serta tekanan psikologis pada anak muda.
Selain faktor digital, lingkungan sekitar juga memegang peranan penting dalam membentuk kondisi mental generasi muda.
Daria J. Kuss dan Mark D. Griffiths, akademisi psikologi dari Nottingham Trent University, dalam kajian mereka menyoroti bahwa tekanan akademik, kurangnya dukungan sosial, serta penggunaan internet tanpa kontrol dapat memperburuk kondisi emosional dan meningkatkan risiko gangguan mental pada anak muda.
Di sisi lain, masih terbatasnya ruang aman untuk bercerita dan kuatnya stigma negatif terhadap kesehatan mental membuat banyak anak muda memilih memendam masalahnya sendiri.
Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyebutkan bahwa anak muda merupakan kelompok usia yang paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental.
Oleh karena itu, dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan pendidikan menjadi faktor penting dalam upaya pencegahan.
Meski demikian, menjaga kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dari langkah besar.
American Psychological Association (APA) menekankan bahwa langkah sederhana seperti mengatur waktu istirahat, membatasi penggunaan media sosial, serta berani mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan dapat membantu anak muda menghadapi tekanan hidup dengan lebih sehat.
Pada akhirnya, kesehatan mental anak muda merupakan tanggung jawab bersama. Dengan meningkatkan kesadaran, mengurangi stigma, serta menciptakan lingkungan yang suportif, anak muda dapat tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga sehat secara mental.
Membicarakan kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah penting untuk menjaga kualitas hidup. (Dafi/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






