ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Perkembangan teknologi digital membuat permainan semakin mudah diakses oleh anak muda melalui ponsel, komputer, hingga konsol.
Fenomena ini menjadikan game sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari yang memengaruhi pola hiburan, cara berinteraksi, serta aktivitas belajar anak muda.
Kemudahan akses tersebut menghadirkan dua sisi dampak, mulai dari manfaat dalam pengembangan keterampilan hingga potensi masalah jika dimainkan tanpa kontrol.
ADVERTISEMENT
Oleh karena itu, dampak game bagi kehidupan anak muda di era digital menjadi perhatian yang perlu dikaji lebih jauh
Dalam kajian akademik, pembahasan mengenai dampak game tidak terlepas dari sisi positif yang dihasilkannya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa game tidak selalu berdampak negatif bagi anak muda.
Penelitian Irmawati (2019: 98) menyebutkan bahwa dampak positif bermain game online antara lain memudahkan mempelajari bahasa Inggris, meningkatkan fokus terhadap pelajaran, melatih kesabaran, serta membangun kerja sama tim.
Dampak tersebut secara tidak langsung turut mengembangkan kemampuan kognitif dan sosial anak muda di ruang digital.
Manfaat bermain game tidak hanya dirasakan secara personal, tetapi juga berkembang ke ranah yang lebih luas. Seiring pesatnya pertumbuhan industri game, muncul berbagai peluang baru di bidang ekonomi kreatif.
Dunia e-sports, pengembangan game, hingga profesi sebagai kreator konten kini mulai diakui sebagai jalur karier yang menjanjikan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa game telah bertransformasi dari sekadar hiburan menjadi bagian dari ekosistem industri digital yang melibatkan banyak anak muda.
Namun, di balik berbagai peluang dan manfaat tersebut, dampak negatif game bagi anak muda juga tidak bisa diabaikan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan game yang tidak terkontrol dapat menimbulkan berbagai masalah.
Menurut Daria J. Kuss: Psikolog dan peneliti internasional di Nottingham Trent University, ahli dalam kecanduan internet dan perilaku digital dan Mark D. Griffiths: Psikolog Inggris, lulusan University of Bradford & University of Exeter, profesor yang fokus pada kecanduan game dan perilaku, juga bekerja di Nottingham Trent University intensitas bermain game yang berlebihan berpotensi mengganggu aktivitas belajar, menurunkan produktivitas, serta memicu kecanduan game.
Selain itu, World Health Organization (WHO) juga memasukkan gaming disorder sebagai salah satu gangguan perilaku, yang ditandai dengan hilangnya kontrol dalam bermain game.
Kondisi ini dapat mengurangi interaksi sosial di dunia nyata dan berdampak pada kesehatan fisik, seperti gangguan mata, kurang tidur, serta rendahnya aktivitas fisik.
Selain persoalan waktu dan kesehatan, aspek konten dalam game juga perlu mendapat perhatian. Tidak semua permainan sesuai untuk semua usia, karena sebagian mengandung unsur kekerasan atau bahasa yang kurang pantas.
Oleh karena itu, sikap kritis dalam memilih game serta adanya pengawasan menjadi faktor penting agar anak muda dapat memanfaatkan game secara bijak tanpa mengabaikan nilai-nilai sosial dan tanggung jawab. (Dafi Alifa/MG)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






