ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Pagi di Kota Bandung masih basah oleh sisa embun ketika Irna Kurniawati (22) menyalakan sepeda motornya. Jaket ojek online (Ojol) melekat di tubuhnya, helm terpasang rapat. Jalanan kota menjadi ruang pertama tempat ia berjuang sebelum beberapa jam kemudian berpindah ke bangku kuliah.
Irna adalah mahasiswi Fakultas Syariah Universitas Islam Bandung (Unisba), Program Studi Hukum Keluarga Islam angkatan 2022. Di tengah tuntutan hidup yang tak ringan, ia mampu menjaga prestasi akademik dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,58.
“Pendidikan itu layak diperjuangkan. Bukan hanya untuk diri saya, tapi juga untuk keluarga dan orang-orang di sekitar saya. Karena ilmu yang bisa mengubah hidup seseorang,” ujar Irna, Rabu (14/1).
ADVERTISEMENT
Penganiayaan Lansia di Minimarket Bandung, Pelaku Terancam 10 Tahun Penjara
Perempuan asal Cimaung, Kabupaten Bandung ini memilih menjadi pengemudi ojek online sejak awal kuliah. Keputusan tersebut diambil bukan tanpa alasan. Irna harus berdiri di atas kakinya sendiri demi bertahan hidup dan melanjutkan pendidikan.
Sejak 10 bulan setelah lulus dari Madrasah Aliyah (MA), Irna telah menjalani berbagai pekerjaan. “Saya benar-benar mulai dari diri sendiri. Pernah kerja di pabrik garmen, jadi sales bank, MC, host live, sampai konten kreator,” tuturnya mengenang.
Di lingkungan kampus, Irna menemukan makna hidup dari nilai Unisba 3M: Mujahid, Mujtahid, Mujaddid—berjuang, berpikir, dan menjadi pembaharu. Baginya, nilai tersebut bukan sekadar jargon akademik, melainkan prinsip hidup.
“Berjuang itu tentang mempertahankan hidup yang layak. Berpikir supaya saya bisa terus bertahan. Dan pembaharu, saya ingin masa depan keluarga dan orang-orang sekitar ikut berubah,” ucapnya.
Keteguhan Irna ditempa oleh kehilangan yang mendalam. Lima tahun lalu ia kehilangan sang ibu, disusul ayahnya setahun kemudian. Sejak saat itu, Irna bertahan dengan dukungan keluarga, sahabat, dan lingkungan kampus serta amanah terakhir dari sang ibu.

“Saya selalu ingat pesan ibu saya. Walaupun ekonomi terbatas, pendidikan itu sangat penting,” katanya lirih.
Di balik ketangguhannya, Irna tak menampik rasa lelah yang kerap datang. Tugas kuliah, kelas, dan pekerjaan sering berjalan bersamaan. Namun baginya, menyerah bukan pilihan.
“Ada titik capek, lelah, bahkan ingin menyerah. Tapi kalau saya berhenti, berarti saya kalah dari semua perjuangan yang sudah saya jalani,” tegasnya.
Rasa gengsi sempat menghantui Irna saat pertama kali mengenakan atribut ojek online sebagai mahasiswa. Namun seiring waktu, perasaan itu berubah menjadi kebanggaan.
“Awalnya malu, takut dilihat orang. Tapi sekarang jaket ojol ini jadi simbol perjuangan. Bukti bahwa saya kuliah dari hasil kerja sendiri,” ujarnya.
Hampir tak ada jeda dalam keseharian Irna. Setiap waktu luang dimanfaatkan untuk bekerja.
“Biasanya pagi sebelum kuliah atau sore setelah kelas. Kalau libur, dari pagi sampai malam,” katanya.
Di tengah kesibukan itu, Irna tetap memelihara mimpi besar. Ia bercita-cita menjadi hakim atau membuka kantor hukum sendiri. Baginya, keberhasilan bukan hanya soal pencapaian pribadi, tetapi juga kebermanfaatan bagi orang lain.
“Saya ingin membantu orang-orang yang membutuhkan. Kalau punya kantor hukum atau usaha sendiri, saya ingin membuka lapangan pekerjaan,” ucapnya.
Di balik jaket ojek online yang ia kenakan setiap hari, Irna Kurniawati menyimpan keyakinan sederhana: selama ia terus bergerak dan berjuang, mimpi itu akan menemukan jalannya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






