KORAN MANDALA –Duet Gibran-KDM mulai ramai diperbincangkan, tetapi jalan menuju Pilpres 2029 belum tentu mulus. Pengamat politik menilai ada “tembok tinggi” yang harus dilewati, mulai dari posisi partai hingga ambang batas parlemen
Pengamat Politik Universitas Pasundan (Unpas), Fahmy Iss Wahyudy, mengatakan isu penyandingan Gibran dan KDM dapat dilihat sebagai bagian dari strategi politik, khususnya dengan mempertimbangkan potensi elektoral KDM.
“Berkaitan dengan penyandingan KDM dan Gibran, saya kira itu lebih pada strategi politik dari PSI. Kalau berkaca pada beberapa hasil survei terbaru, tingkat elektabilitas KDM cukup signifikan atau tinggi,” Kata Fahmy. Saat dihubungi koran Mandala Minggu (27/9/2026)
Menurutnya, kondisi tersebut membuat KDM berpotensi menjadi magnet elektoral bagi sejumlah partai politik. Terlebih, Partai Gerindra dinilai masih berpeluang mendorong Prabowo Subianto untuk kembali maju pada Pilpres 2029.
“Jadi, upaya menyandingkan Gibran dan KDM saya kira lebih pada strategi politik saja karena KDM per hari ini direbutkan semua partai,” ujarnya.
Namun, Fahmy menilai wacana tersebut tidak sederhana jika melihat dinamika politik dan parlemen saat ini. Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pembahasan parliamentary threshold atau ambang batas parlemen.
Ia menyoroti adanya kesepakatan mengenai angka parliamentary threshold sebesar 5 persen. Menurut Fahmy, angka tersebut jika dikonversikan ke suara riil akan membutuhkan perolehan suara dalam jumlah besar.
“Sementara PSI dalam dua keikutsertaannya hanya berada di angka 1 sampai 2 persen. Jadi, bagaimana mungkin bisa menyandingkan dua orang kalau PSI sendiri kesulitan untuk masuk ke parlemen?” tuturnya.
Fahmy juga menyinggung adanya usulan agar pencalonan presiden ke depan harus didasarkan pada dukungan minimal dua koalisi partai politik di parlemen. Kondisi itu, menurutnya, semakin memperumit peluang untuk merealisasikan wacana duet Gibran-KDM.
“Justru dinamika politik belakangan ini agak membuat rumit konsep menyandingkan Gibran dan KDM. Kita tahu kalau Gerindra besar kemungkinan ke Prabowo. Pun Gibran sampai hari ini belum punya partai,” katanya.
Di sisi lain, Fahmy menilai bergabungnya Presiden ke-7 RI Joko Widodo ke PSI dapat membuka kemungkinan Gibran menggunakan kendaraan politik yang sama apabila nantinya maju dalam Pilpres 2029.
“Kalaupun Pak Jokowi kemarin sudah deklarasi resmi sebagai anggota PSI, dengan demikian besar kemungkinan Gibran jika mencalonkan itu akan dari PSI. Sementara PSI juga berhadapan dengan tugas berat untuk masuk ke parlemen jika parliamentary threshold sebesar 5 persen,” ujarnya.
Fahmy kemudian mengibaratkan dinamika tersebut sebagai “tembok tinggi” yang membuat upaya memasangkan Gibran dengan KDM tidak mudah direalisasikan.
“Saya kira ada tembok tinggi yang membuat upaya memasangkan itu menjadi rumit. Dinamika temboknya cukup tinggi” Ungkapnya

Wacana duet Gibran-KDM mulai diperbincangkan menuju Pilpres 2029 (Istimewa)
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.