ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Elma dan Basil menjadi karakter utama dalam film drama romantis Indonesia Dan Bandung, yang mengisahkan cerita cinta anak muda dengan latar keindahan dan sudut-sudut Kota Bandung.
Film yang diangkat dari karya Pidi Baiq “Dan Bandung” ini mendapat sentuhan sutradara Rudi Soedjarwo, sosok yang sebelumnya dikenal lewat film legendaris Ada Apa dengan Cinta (AADC).
Pidi Baiq mengaku sempat terkejut ketika mengetahui karya terbarunya yang diangkat ke layar lebar akan disutradarai Rudi Soedjarwo.
Bagi Pidi, nama Rudi Soedjarwo bukanlah sosok asing. Rekam jejaknya dalam menggarap film drama romantis membuat Pidi langsung percaya ketika nama Rudi muncul sebagai calon sutradara untuk film Dan Bandung.
Pidi menceritakan, saat naskah sudah siap difilmkan, pihak produksi masih mencari sosok yang tepat untuk duduk di kursi sutradara. Hingga akhirnya, nama Rudi Soedjarwo muncul.
”Saat ketemu sama Ibu Titien itu kan naskah fix sudah mau di film kan gitu. Tinggal siapa sutradaranya?, Tau-tau kok muncul kata Rudi Soedjarwo” kata Pidi saat menghadiri gala premiere di XXI Ciwalk Bandung. Sabtu (16/8/2026)
Rudi kemudian menemui Pidi untuk membicarakan proyek tersebut. Dalam pertemuan itu, Pidi mengaku tidak banyak memberikan batasan kepada sang sutradara.
”Udah terserah Mas Rudi aja. Saking saya percaya karena ia pernah berkarya yang bagus,” tutur Pidi.
Kepercayaan tersebut ternyata berbuah positif. Setelah menyaksikan hasil filmnya, Pidi mengaku justru dibuat terkejut dengan bagaimana Rudi menerjemahkan tulisannya ke dalam bahasa visual.
”Setelah saya nonton hasilnya, bahwa tulisan saya di film kan oleh dia, Wow! Aku Jadi kayak, gaada apa apanya gini, kok bisa jadi bagus gini.” Ungkapnya merasa bangga
Pidi juga sempat merasa khawatir ketika mengetahui lagu-lagu miliknya akan dicantumkan dalam film. Ia takut keberadaan lagu tersebut justru mengganggu cerita.
”Awalnya saya pas denger-denger lagu-lagu saya mau dicantumin di film, aduh nggak enak gini nanti. Takut ngedistract gitu ya, takut ngganggu ngganggu kuping gitu,” ujarnya.
Namun, kekhawatiran itu berubah setelah melihat hasil akhirnya. Menurut Pidi, Rudi justru memiliki cara tersendiri dalam menggunakan lagu-lagunya agar film tidak terasa terlalu manis.
Tak hanya soal penyutradaraan, Pidi juga terkesan dengan akting para pemain Dan Bandung. Saking terkesannya, ia bahkan langsung terpikir untuk mengajak sejumlah pemain tersebut terlibat dalam karya berikutnya.
”Terus saya terkejut semua dengan akting -akting nya. Tadi saya langsung bisikin dia, ‘Nanti main di film saya,’ gitu,” ujarnya.
Bagi Pidi, hidup tidak cukup hanya dijalani, tetapi juga perlu diisi dengan karya.
”Jangan sampai Hidup itu cuma untuk menghirup oksigen, Tapi harus berkarya,” ujarnya.
Rudi Soedjarwo: Karya Pidi Baiq Tak Boleh Dihancurkan
Sementara itu, Rudi Soedjarwo mengungkapkan alasan dirinya menerima tawaran untuk menggarap karya Pidi Baiq. Menurutnya, proyek tersebut menjadi kesempatan untuk kembali membuat film dengan tema cinta seperti yang pernah ia kerjakan melalui AADC.
”Ketika aku ditawarkan Film ‘Dan Bandung’, sebenarnya gini, aku berkembang dan tumbuh dari film cinta kan dulu, Ada Apa dengan Cinta. Dan kesempatan untuk bikin seperti itu lagi tidak pernah datang ke saya selama bertahun-tahun,” kata Rudi.
Namun, kali ini Rudi menggarap kisah cinta dari sudut pandang yang berbeda. Di usianya yang telah 55 tahun, ia merasa pengalaman hidup yang lebih panjang turut memengaruhi cara pandangnya terhadap karakter dan cerita cinta.
”Ketika datang ke saya dalam usia saya yang 55 tahun, saya juga penasaran. Kira-kira dengan saya sudah 55 tahun ini melihat sebuah cinta dan bagaimana karakter-karakter di dalamnya akan berubah enggak ya?” ujarnya.
Menurut Rudi, pengalaman hidup yang lebih banyak membuatnya merasa memiliki perspektif yang lebih matang dibanding ketika menggarap AADC pada 2002.
”Dan menurut saya sekarang, saya merasa lebih lengkap sebagai manusia karena sudah mengalami banyak hal dibanding tahun 2002, ya kan? Jadi saya merasa bahwa kayanya aku bisa bikin lebih tajam deh yang ini dibanding yang, yang itu,” katanya.
Dalam proses penggarapan Dan Bandung, Rudi mengaku bersama tim memiliki satu prinsip penting, yakni menjaga kualitas karya Pidi Baiq.
”Aku dalam hati dan tim juga waktu itu pernah berjanji kan, kalau mau bikin filmnya Pidi, jangan sampai kita lebih jelek. Itu patokan saya. Kenapa? Karena dia seniman juga. Karyanya jangan dihancurkan,Minimal jangan lebih jelek,” ujar Rudi.
Ia juga berterima kasih kepada Pidi Baiq dan produser karena memberikan kebebasan dalam proses kreatif.
”Dan aku terima kasih juga dikasih kebebasan oleh Ayah Pidi dan juga dari produser untuk aku bisa mengeluarkan hati saya di sini. Itu yang penting sih,” tutur Rudi.
Bagi Rudi, keberhasilan sebuah film tidak hanya diukur dari proses produksinya, tetapi juga dari reaksi penonton setelah menyaksikan karya tersebut.
”Kalau kita berkarya, aku enggak tahu ya kalau seniman yang lain, kalau aku sebagai seniman, ketika kita melihat reaksi penonton terhadap karya kita, itu sebenarnya sudah pencapaian kita yang paling besar sebenarnya,” Pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT





