ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Di bawah rindang pohon di trotoar Jl. Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Asep (55) menggelar lapaknya sejak pagi. Puluhan kotak berisi cincin batu akik tersusun rapi di atas tikar, memperlihatkan ragam warna dan motif yang dulu pernah begitu diminati.
Seorang calon pembeli sesekali berhenti, melihat, lalu pergi. Bagi Asep, ritme seperti itu sudah biasa.
Ojol Bandung Soroti Wacana Potongan 8 Persen, Komunitas: “Aplikator Selama Ini Tak Gubris Aturan”
ADVERTISEMENT
Pria asal Garut itu mengaku telah berjualan batu akik selama kurang lebih 35 tahun. Ia datang ke Bandung dan menetap berjualan di kawasan tersebut sejak 2014, tepat saat tren batu akik mulai menanjak.
Pengalaman panjang itu membuatnya paham betul bagaimana siklus dagangan naik dan turun. Asep mengingat masa puncak kejayaan batu akik terjadi sekitar tahun 2014-2015. Saat itu, permintaan tinggi dan pembeli datang silih berganti. Namun setelah periode tersebut, tren perlahan meredup.
“Sekarang lagi menurun, terutama beberapa bulan terakhir sepi, tapi ya sesekali tetap ada yang beli,” katanya saat dijumpai, Minggu (3/5/2026).
Menurut Asep, kondisi sepi juga dirasakan oleh rekan-rekannya sesama pedagang cincin batu akik. Ia sendiri tidak bisa memastikan penyebab pasti tren penjualan menurun, namun penurunan daya beli masyarakat menurutnya bisa saja jadi salah satu faktor.
“Gak tahu, mungkin faktor ekonomi sekarang ini lagi susah ya,” tambahnya.
Asep membuka lapaknya sejak pukul 08.00 pagi hingga sekitar pukul 15.00 sore. Jika hujan datang, ia harus segera menutup dagangannya karena sama sekali tak ada atap yang menaungi.
Dalam sehari, penjualannya tidak menentu. Kadang ia bisa menjual tiga hingga lima cincin, tetapi di hari lain hanya dua atau bahkan tidak ada sama sekali. Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai dari Rp100 ribu hingga Rp400 ribu, tergantung jenis dan kualitas batu. Pola penjualan yang fluktuatif itu, menurutnya, sudah menjadi bagian dari risiko berdagang.
“Namanya jualan kan kadang ada kadang nggak ada,” ucapnya.
Di tengah perubahan tren, Asep belum mencoba beralih ke penjualan digital. Ia menyadari maraknya penggunaan media sosial seperti TikTok sebenarnya membuka peluang untuk mendorong kembali popularitas batu akik. Namun hingga kini, ia tetap memilih bertahan dengan cara berjualan langsung di lapak.
“Nggak, mending gini aja kalau saya, melapak,” katanya.
Meski penjualan sedang lesu, Asep tidak memiliki rencana untuk berpindah profesi. Pengalaman puluhan tahun membuatnya tetap bertahan di jalur yang sama. Ia juga belum memastikan langkah ke depan jika kondisi sepi terus berlangsung.
“Ah nggak, nggak tahu. Udah 35 tahun soalnya,” ujarnya.
Di balik ketidakpastian itu, harapannya sederhana. Ia ingin batu akik kembali diminati seperti dulu. Di trotoar yang sama, dengan lapak yang sama, ia terus menunggu kemungkinan itu datang.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






