ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Keringat berlebih pada telapak tangan, telapak kaki, maupun bagian tubuh tertentu kerap membuat seseorang merasa tidak nyaman, terlebih ketika kondisi tersebut terjadi secara berulang dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kondisi tersebut dikenal sebagai hiperhidrosis. Di tengah masyarakat, hiperhidrosis masih kerap dikaitkan dengan penyakit jantung atau anggapan sebagai tanda seseorang mengalami lemah jantung.
Namun, anggapan tersebut ternyata tidak tepat. Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta Mandira Hudhi, menjelaskan bahwa hiperhidrosis bukan merupakan tanda penyakit jantung.
Hal tersebut disampaikannya melalui unggahan video di akun Instagram miliknya. Ia menerangkan bahwa hiperhidrosis berkaitan dengan aktivitas saraf simpatis yang bekerja secara berlebihan.
”Itu mitos ya. Jadi hiperhidrosis itu adalah sebuah kondisi ketika aktivitas saraf simpatisnya berlebihan. Salah satu aktivitas saraf simpatis itu adalah fight or flight. Salah satu impact-nya adalah di bagian distal kita, kayak telapak tangan dan telapak kaki, itu akan berkeringat dingin,” kata dr. Tirta, dikutip Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, anggapan hiperhidrosis sebagai tanda lemah jantung kemungkinan muncul karena adanya kemiripan dengan salah satu gejala serangan jantung, yakni munculnya keringat dingin.
Ia menjelaskan, seseorang yang mengalami serangan jantung dapat merasakan nyeri hebat di bagian kiri tubuh yang kemudian menjalar hingga ke bahu, punggung, lengan, bahkan telapak tangan.
”Dikarenakan serangan jantung itu salah satu gejalanya yang parah adalah ada nyeri hebat di bagian kiri, regio kiri, dan dia menjalar dari bahu, punggung, sampai lengan, sampai telapak tangan. Nah, saking nyerinya, itu sampai keringat dingin,” ujarnya.
Kondisi tersebut kemudian membuat sebagian masyarakat menganggap telapak tangan yang berkeringat dingin sebagai tanda seseorang mengalami gangguan jantung.
”Nah, karena hal ini orang-orang awam tahunya, ‘Wah, ini nyeri terus keringat dingin’, akhirnya muncullah telapak tangan keringat dingin sama dengan sakit jantung. Tetapi kalau dikatakan hiperhidrosis adalah lemah jantung, itu mitos,” tegasnya.
Meski bukan merupakan gejala penyakit jantung, dr. Tirta mengingatkan hiperhidrosis tetap perlu diperiksakan apabila keringat berlebih sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.
Ia mengatakan, kondisi hiperhidrosis yang sudah parah bahkan dapat menyebabkan telapak tangan menjadi sangat basah hingga keringat menetes.
”Nah, ketika misalkan hiperhidrosis itu terlalu mengganggu, tangan bisa basah banget. Dan itu akhirnya membuat harus datang ke dokter penyakit dalam atau dokter saraf, butuh dicek. Karena kalau misalkan mengganggu banget, misalkan sampai netes-netes gini, ya itu harus dicek, cuma bukan merupakan gejala penyakit jantung,” pungkas dr. Tirta.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






