KORANMANDALA.COM – Kurang tidur tidak hanya menyebabkan tubuh merasa lelah dan mengantuk, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosi. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah tersinggung, reaktif, hingga bersikap defensif saat berinteraksi dengan orang lain.
Edukator sekaligus sleep coach Indonesia, Vishal Dasani, menjelaskan bahwa kurang tidur dapat menurunkan kemampuan otak dalam memproses emosi secara jernih. Akibatnya, seseorang bisa lebih mudah menganggap hal kecil sebagai bentuk kritik atau serangan.
”Kurang tidur tidak selalu bikin kamu ngantuk, kadang bikin kamu menyebalkan. Maksudnya bukan kamu orang yang menyebalkan, tapi saat tidur itu kurang, kamu bisa jadi lebih reaktif dan lebih defensif,” ujar Vishal dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, dikutip Minggu (26/7/2026).
Menurut Vishal, ketika tubuh belum mendapatkan waktu istirahat yang cukup, kapasitas otak untuk berpikir tenang ikut menurun. Hal tersebut membuat seseorang lebih sulit mengatur respons emosional ketika menerima komentar, masukan, maupun perbedaan pendapat.
”Masukan kecil terasa seperti serangan, komentar biasa terasa seperti kritik, orang kasih saran kamu langsung merasa perlu membela diri. Bahkan kadang, kamu jadi merasa paling benar dan susah menerima masukan,” katanya.
Ia menegaskan, perubahan perilaku akibat kurang tidur bukan berarti seseorang memiliki karakter buruk. Kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa tubuh dan otak belum pulih sepenuhnya setelah mengalami kekurangan waktu istirahat.
”Saat tubuh belum cukup pulih, otak punya kapasitas yang lebih rendah untuk pause, mendengar, dan merespons dengan jernih. Jadi, ini bukan berarti kamu orangnya buruk, bisa jadi sistem tubuh kamu memang belum cukup pulih,” jelasnya.
Agar kondisi tersebut tidak memicu konflik, Vishal menyarankan agar seseorang tidak langsung mengambil keputusan besar ketika mengetahui dirinya kurang tidur. Ia mengimbau untuk memberikan jeda sebelum merespons situasi yang memicu emosi.
”Kalau semalam tidurmu kurang, jangan langsung bertindak berdasarkan semua emosimu hari itu. Ambil jeda, tunda keputusan besar, jangan langsung bereaksi saat emosi masih tinggi,” ujarnya.
Vishal juga menyarankan agar seseorang terbuka kepada keluarga, pasangan, atau rekan kerja ketika sedang mengalami kurang tidur. Dengan komunikasi yang baik, orang sekitar dapat memahami perubahan suasana hati dan membantu mengingatkan ketika emosi mulai meningkat.
Menurutnya, terkadang seseorang hanya membutuhkan sedikit waktu untuk berhenti sejenak sebelum memberikan respons terhadap suatu keadaan.
”Karena kadang, yang kita butuhkan cuma sedikit ruang untuk tidak langsung meledak,” tuturnya.

Tidur Berlebihan saat Puasa: Klarifikasi UAH terhadap Hadist Palsu
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.