ADVERTISEMENT
Mahasiswa umumnya memiliki tuntutan untuk berpikir di level ini.
Untuk naik ke level ini, seseorang dapat mulai meringkas informasi dengan bahasa sendiri atau mengajarkannya kepada orang lain.
Level ketiga adalah menerapkan, yakni kemampuan menggunakan pengetahuan dalam situasi nyata.
ADVERTISEMENT
Contohnya adalah program Kuliah Kerja Nyata (KKN), di mana mahasiswa mengaplikasikan ilmu yang mereka pelajari untuk menyelesaikan masalah di masyarakat.
Selanjutnya, level keempat adalah menganalisis.
Pada level ini, seseorang memiliki tuntutan untuk berpikir kritis dengan cara memecah informasi, memahami keterkaitan antar ide, serta melihat dari berbagai sudut pandang.
Biasanya, hanya individu yang memiliki ketertarikan tinggi pada suatu bidang yang mampu mencapai tahap ini.
Level kelima adalah mengevaluasi, yaitu kemampuan menilai informasi secara objektif dan membuat keputusan berdasarkan kriteria tertentu.
Proses ini biasanya kita temukan saat menyusun skripsi atau thesis, di mana seseorang harus menimbang berbagai argumen sebelum menarik kesimpulan.
Level tertinggi adalah menciptakan, yakni saat seseorang mampu menggabungkan berbagai ide menjadi konsep atau produk baru.
Ini adalah kemampuan yang umumnya kita asosiasikan dengan penelitian tingkat lanjut seperti disertasi doktoral.
Memahami level-level berpikir ini sangatlah penting agar proses belajar menjadi lebih efektif.
Jika mengetahui tujuan belajar yang jelas, apakah untuk memahami, menerapkan, atau mengevaluasi, kita dapat secara sadar memilih pendekatan berpikir yang tepat.
Tantangan kita adalah bagaimana tetap konsisten berada di level berpikir yang lebih tinggi.
Kuncinya adalah dengan selalu berfokus pada pemahaman mendalam dan evaluasi, bukan sekadar menghafal.
Itulah pembahasan dari Vincent Setiawan tentang beberapa level berpikir yang harus banyak orang kuasai. ***
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






