Daerah

Harga Aci Meroket, Omzet Pengusaha Kerupuk Anjlok 40 Persen

KORAN MANDALA – Lonjakan harga tepung tapioka atau aci mulai menghimpit pelaku usaha kerupuk di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Kenaikan harga bahan baku yang kini menembus Rp18.000 per kilogram membuat biaya produksi membengkak hingga berdampak pada penurunan pesanan dan omzet usaha.

Kondisi tersebut dirasakan Padi Kapas Group, salah satu produsen kerupuk khas Indramayu. Perwakilan Padi Kapas Group, Yuda Prasetya mengatakan, kenaikan harga aci terjadi secara bertahap sejak Agustus 2026.

Menurutnya, harga tepung tapioka yang semula Rp8.000 per kilogram terus mengalami kenaikan hingga mencapai Rp14.000 per kilogram pada Oktober 2026, Bulan ini November kenaikan capai Rp18.000 per kilogram.

“Kenaikannya itu dari bulan delapan (Agustus) ya, bertahap. Dari angka Rp8.000, lalu ke Rp9.800, bulan kemarin menyentuh Rp11.000, bulan Oktober menyentuh angka Rp14.000 per kilogram, hari ini menyentuh Rp18.000 per kilogram” ujar Yuda, Rabu (4/11/2026)

Kenaikan tersebut membuat pengusaha harus mencari cara agar kegiatan produksi tetap berjalan. Meski demikian, Yuda mengaku tidak ingin menekan biaya dengan mengganti bahan baku menggunakan aci berkualitas lebih rendah.

Pasalnya, kualitas tepung tapioka sangat berpengaruh terhadap cita rasa kerupuk yang diproduksi. Pihaknya memilih mempertahankan bahan baku premium agar mutu produk tetap terjaga dan kepercayaan konsumen tidak menurun.

“Kalau kita ganti aci ke yang lebih murah, khawatirnya kualitas kita enggak terjaga. Sedangkan aci-aci premium tingkat satu yang benar-benar cita rasanya fresh, itu yang ada kenaikan,” katanya.

Yuda menyebut, berdasarkan informasi dari produsen dan pemasok, kenaikan harga tapioka dipengaruhi melambungnya harga singkong sebagai bahan baku utama di tingkat petani.

Dampaknya, Padi Kapas Group terpaksa menyesuaikan harga jual produknya. Pada April 2026, harga kerupuk mengalami kenaikan Rp20.000 per bal, dari sebelumnya Rp250.000 menjadi Rp270.000.

“Per bulan April kemarin kenaikan kerupuk naik Rp20.000. Khususnya kerupuk kami dari harga Rp250.000 menjadi Rp270.000 per bal. Salah satu faktor utamanya ya karena aci yang juga meningkat harganya,” ungkapnya.

Meski biaya produksi semakin tinggi, Yuda memastikan pihaknya belum melakukan pengurangan tenaga kerja. Namun, tingginya harga bahan baku membuat perusahaan kesulitan memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan kemampuan membeli stok aci.

Kenaikan harga jual juga berpengaruh terhadap daya beli konsumen. Sejumlah agen mulai mengurangi frekuensi pemesanan, bahkan ada yang memperpanjang jeda pembelian hingga satu bulan.

“Pesanan konsumen menurun juga. Yang biasanya pesan 100 bal setiap satu minggu sekali, ini jadi dua minggu sekali, bahkan ada yang satu bulan sekali. Penurunan omzet bisa sampai 40 persen,” tuturnya.

Persoalan lainnya, tepung tapioka yang dibeli tidak dapat langsung digunakan untuk produksi. Bahan baku tersebut membutuhkan waktu penyimpanan sekitar satu bulan sebelum siap diolah.

“Aci yang dibeli bulan sekarang, baru bisa dipakai bulan depan. Jadi ada jangka waktu kurang lebih satu bulan baru siap diproduksi. Kendalanya, kita harus memenuhi kebutuhan pasar, tapi tidak bisa memenuhi stok di gudang karena harganya tidak terjangkau,” tuturnya.

Di tengah kondisi tersebut, pelaku usaha kerupuk di Indramayu berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga tepung tapioka. Dengan begitu, biaya produksi dapat lebih terkendali dan keberlangsungan usaha UMKM tetap terjaga.

Share