PC PMII Purwakarta menggelar aksi solidaritas di GKPS Cikopo untuk menyuarakan toleransi, kebebasan beragama, dan menolak segala bentuk intoleransi.
KORAN MANDALA – Persoalan toleransi dan kebebasan beragama di Kabupaten Purwakarta kembali mendapat perhatian kalangan mahasiswa.
Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Purwakarta menggelar aksi solidaritas di halaman Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Cikopo, Kecamatan Bungursari.
Aksi yang bertepatan dengan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap pentingnya menjaga keberagaman.
Sejumlah kader PMII bersama perwakilan lintas agama berkumpul untuk menyampaikan pesan persatuan sekaligus menolak segala bentuk intoleransi yang berpotensi merusak kerukunan masyarakat.
Pemilihan lokasi aksi bukan tanpa alasan. GKPS Cikopo sebelumnya menjadi perhatian publik menyusul persoalan penolakan pembangunan rumah ibadah yang berkaitan dengan polemik administrasi perizinan.
Situasi tersebut mendorong mahasiswa untuk turut menyuarakan pentingnya penyelesaian persoalan secara adil tanpa mengesampingkan hak masyarakat dalam menjalankan keyakinannya.
Ketua PC PMII Purwakarta, Aldi Wiguna, mengatakan Sumpah Pemuda bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan momentum untuk kembali memperkuat komitmen menjaga persatuan di tengah keberagaman.
“Hari ini, bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda, PC PMII Purwakarta berdiri tegak di GKPS Bungursari bersama elemen lintas agama untuk mempertegas sikap. Purwakarta harus tetap menjadi daerah yang aman, damai, dan inklusif bagi seluruh umat beragama,” kata Aldi, dikutip pada Senin (2/11/2026).
Ia juga menyoroti perlunya keterlibatan pemerintah daerah dalam mencari jalan keluar atas persoalan pendirian rumah ibadah. Menurutnya, Pemkab Purwakarta bersama instansi terkait harus hadir untuk memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut secara terbuka dan transparan.
Aldi menegaskan, persoalan administratif memang perlu diselesaikan berdasarkan aturan yang berlaku. Namun, prosesnya tidak boleh diwarnai intimidasi ataupun tekanan dari kelompok tertentu.
Kegiatan tersebut turut dihadiri jemaat dan pengurus GKPS Purwakarta serta sejumlah tokoh lintas agama. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya membangun komunikasi dan memperkuat persaudaraan antarkelompok masyarakat.
Rangkaian aksi ditutup dengan pembacaan teks Sumpah Pemuda, deklarasi bersama untuk menjaga toleransi dan perdamaian, serta doa lintas agama.
Melalui kegiatan tersebut, PMII berharap Purwakarta tetap menjadi ruang bersama yang menghargai perbedaan dan menjamin kebebasan setiap warga dalam menjalankan ibadahnya.