Akademisi dan mahasiswa mengikuti Indonesia Berdoa di Bandung, menyuarakan kegelisahan tentang keadilan, demokrasi, kepemimpinan, dan masa depan Indonesia. (Istimewa)
KORAN MANDALA – Akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), bersama tokoh lintas iman, mahasiswa, serta elemen masyarakat sipil berkumpul dalam kegiatan Indonesia Berdoa di Pelataran Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat, Jalan Dipati Ukur, Kota Bandung.
Kegiatan yang diinisiasi Forum Intelektual Antar Disiplin (FIAD) Bandung tersebut menjadi ruang doa bersama dan refleksi kebangsaan di tengah berbagai persoalan serta bencana yang melanda sejumlah wilayah Indonesia.
Guru Besar Hukum Tata Negara Unpad, Prof. Susi Dwi Harijanti, mengatakan, Indonesia Berdoa merupakan wujud kecintaan terhadap Tanah Air yang tengah menghadapi berbagai cobaan.
“Kegiatan Indonesia Berdoa yang dilakukan oleh FIAD Bandung dan diikuti oleh akademisi antara lain dari Unpad, ITB, UPI, tokoh agama, elemen masyarakat sipil serta para mahasiswa merupakan wujud nyata cinta kepada Republik Indonesia yang sedang menghadapi cobaan yang beruntun, mulai dari banjir Sumatera, gempa NTT, karhutla di Kalimantan, Papua, Sumatera dan daerah-daerah lain,” ujar Prof. Susi, dikutip Minggu, (25/10/2026).
Menurut Susi, doa menjadi harapan yang dipanjatkan ketika manusia menyadari keterbatasannya dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Doa adalah harapan tertinggi yang dimohonkan kepada Pencipta dan Penguasa Semesta karena kami menyadari manusia tak mungkin mampu menyelesaikan semua masalah karena berbagai kelemahan yang melekat padanya,” katanya.
Indonesia Berdoa berlangsung sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 WIB. Kegiatan dibuka oleh Guru Besar Astronomi ITB, Prof. Dra. Premana Wardayanti Premadi, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai FIAD Bandung dan tujuan penyelenggaraan kegiatan oleh Prof. Susi..
Doa dipimpin oleh perwakilan lintas agama dan diikuti seluruh peserta. Keterlibatan tokoh lintas iman tersebut menjadi bagian dari semangat kebersamaan dalam menyampaikan harapan bagi masa depan Indonesia.
Dalam kegiatan itu, peserta membacakan naskah doa berjudul Doa Bagi Indonesia Kami: Dengarkan Suara Kami, Pulihkan Negeri Kami yang disusun oleh Dr. Tendy Y. Ramadin, S.Des., M.T.
Naskah tersebut memuat kegelisahan terhadap berbagai persoalan kebangsaan, mulai dari ketidakadilan, penegakan hukum, hingga pentingnya mendengarkan aspirasi masyarakat.
Salah satu bagian doa menekankan bahwa kecintaan terhadap Indonesia tidak berarti membenarkan seluruh keadaan tanpa kritik.
“Cinta tidak berarti menutup mata, kesetiaan tidak berarti membenarkan segala-galanya, dan persatuan tidak boleh dibangun dengan membungkam suara yang berbeda,” demikian petikan naskah doa tersebut.
Naskah itu juga menyoroti tanggung jawab pemimpin dalam menjalankan kekuasaan sebagai amanah serta memperjuangkan kepentingan masyarakat luas. Para peserta memohon agar pemimpin bersedia mendengarkan aspirasi, menerima kritik, dan berani mengakui kesalahan.
“Kami tidak meminta pemimpin tanpa kekurangan. Kami memohon pemimpin yang mau mendengar, bersedia dikoreksi, dan tidak malu mengakui kesalahan,” demikian bunyi petikan doa tersebut.
Selain itu, doa tersebut mengingatkan pentingnya menjaga persatuan tanpa menghilangkan ruang bagi perbedaan pendapat. Suara petani, buruh, guru, mahasiswa, nelayan, dan masyarakat kecil disebut sebagai bagian yang perlu diperhatikan dalam kehidupan berbangsa.
Melalui Indonesia Berdoa, FIAD Bandung menghadirkan ruang bagi akademisi, mahasiswa, tokoh lintas iman, dan masyarakat untuk berdoa bersama serta merefleksikan kondisi bangsa. Kegiatan ini juga membawa harapan agar doa disertai ikhtiar nyata dalam memperbaiki keadaan Indonesia.
“Sebab doa tanpa ikhtiar kehilangan daya, dan ikhtiar tanpa nurani kehilangan arah,” demikian bunyi bagian lain dalam naskah doa tersebut.