Daerah

Ekspor Naik, PHK Tekstil Masih Membayangi Jawa Barat

KORAN MANDALA – Lonjakan nilai ekspor nasional belum sepenuhnya berdampak pada penyerapan tenaga kerja di Jawa Barat. Di tengah pertumbuhan industri mesin dan otomotif, sektor tekstil justru menghadapi penurunan kinerja yang memicu pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pengamat Ekonomi Universitas Insan Cendikia Mandiri, Deni Rizky, menilai peningkatan ekspor sektor mesin tidak terlepas dari derasnya investasi yang masuk ke Jawa Barat. Kehadiran pabrik baru dan pusat perakitan turut memperkuat basis manufaktur daerah untuk memenuhi permintaan pasar global.

Namun, menurut Deni, kenaikan nilai ekspor perlu dicermati karena belum sejalan dengan kondisi ketenagakerjaan, terutama bagi pekerja di sektor padat karya.

ADVERTISEMENT

Ia menjelaskan, struktur industri di Jawa Barat tengah mengalami pergeseran. Industri tekstil yang selama ini menjadi salah satu penopang perekonomian daerah mengalami penurunan kinerja, sedangkan industri berbasis teknologi tinggi, seperti otomotif, mesin, dan kendaraan listrik, terus berkembang.

“Ada peralihan sektor dari tekstil ke industri otomotif dan mesin. Namun, proses ini tidak serta-merta berjalan mulus karena kualifikasi dan kesiapan tenaga kerja kita sangat menentukan,” ujar Deni saat diwawancarai, Kamis (22/10/2026).

Deni mengatakan, peralihan industri tersebut menjadi tantangan bagi tenaga kerja lokal. Kebutuhan keterampilan di sektor manufaktur modern tidak selalu sesuai dengan kemampuan pekerja yang sebelumnya bekerja di industri tekstil.

Di sisi lain, penyerapan tenaga kerja pada industri baru dinilai belum seimbang dengan jumlah pekerja yang terdampak PHK dari sektor tekstil. Akibatnya, pergeseran struktur industri belum sepenuhnya mampu mengatasi persoalan pengangguran di Jawa Barat.

Menurutnya, kondisi tersebut membutuhkan intervensi pemerintah daerah melalui program peningkatan keterampilan atau reskilling dan upskilling. Langkah ini diperlukan agar pekerja yang kehilangan pekerjaan memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri yang terus berkembang.

Deni juga menekankan pentingnya kebijakan investasi yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan modal dan nilai ekspor, tetapi turut memperhatikan penyerapan tenaga kerja lokal.

Sinkronisasi antara kebutuhan industri dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia dinilai penting agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat.

Dengan demikian, peningkatan ekspor tidak hanya tercermin dalam angka perdagangan luar negeri, tetapi juga diikuti perluasan kesempatan kerja dan perbaikan kesejahteraan masyarakat.

KoranMandala.com

Published by

Recent Posts

Dibangun untuk Pelatihan Kerja, BLKK Purwakarta Kini Jadi Dapur MBG

KORAN MANDALA – Bangunan Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) di lingkungan Pesantren Manbaul Ulum Assalafiyah,…

22 menit ago

Adang Rochyana Terpilih Aklamasi Pimpin PMI Jabar 2026–2031

KORAN MANDALA –Irjen Pol (Purn.) Adang Rochyana kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Palang Merah…

2 jam ago

Jadwal Padat Mengadang, Marc Klok Tegaskan Target Persib

KORAN MANDALA –Persib Bandung tak punya banyak ruang untuk lengah. Di tengah jadwal pertandingan yang…

3 jam ago

Zakat BAZNAS Garut Tembus Rp13 Miliar, Penghimpunan Menurun

KORAN MANDALA – Penghimpunan zakat Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Garut mencapai Rp13 miliar pada…

4 jam ago

Cara Cek Desil Bansos 2026 Lewat HP, Ketahui Status Kesejahteraan

KORAN MANDALA –Masyarakat dapat mengecek desil kesejahteraan keluarga untuk mengetahui kelompok tingkat kesejahteraan yang tercatat…

5 jam ago

Jagad Music Waldorf Vol.1: Saat Musik Jadi Ruang Tumbuh Bersama Anak

KORAN MANDALA – Minggu pagi (18/10/2026), Jagad Alit Waldorf, sekolah Waldorf di Bandung yang menerapkan…

5 jam ago