ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA –Pemerintah Kota Bandung kembali mengingatkan jajaran perangkat daerah untuk mewaspadai ancaman genangan dan banjir menjelang musim hujan.
Namun, kesiapan tersebut masih menyisakan pertanyaan besar: seberapa siap sebenarnya sistem drainase Kota Bandung menghadapi hujan berintensitas tinggi?
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Hingga 30 September 2026, rehabilitasi drainase Kota Bandung baru mencapai sekitar 7,2 kilometer dari target tahunan 14 kilometer. Artinya, pekerjaan baru menyentuh sekitar separuh target yang ditetapkan pemerintah.
ADVERTISEMENT
PFI Bandung Perkuat Regenerasi Fotografi Jurnalistik Mahasiswa
Kondisi tersebut menjadi penting karena Pemerintah Kota Bandung sendiri masih menghadapi persoalan genangan di sejumlah kawasan.
Bahkan, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan sebelumnya mengakui terdapat titik genangan yang berkaitan dengan kapasitas saluran, sedimentasi, serta jaringan drainase yang terhubung dengan wilayah Kabupaten Bandung.
Persoalan itu kini kembali disoroti Pemkot Bandung menjelang meningkatnya ancaman hujan.
Sekretaris Daerah Kota Bandung Iskandar Zulkarnain meminta perangkat daerah dan kewilayahan memperkuat koordinasi, terutama dalam memastikan sampah tidak menyumbat saluran air.
“Apabila musim hujan datang, maka kita harus mengantisipasi terkait dengan sampah, terutama di wilayah-wilayah yang saluran airnya tersumbat,” ujar Iskandar saat apel mulai bekerja di Plaza Balai Kota Bandung, Senin (5/10/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sampah masih menjadi salah satu pekerjaan rumah yang harus dibereskan pemerintah sebelum hujan dengan intensitas tinggi datang. Namun, persoalan banjir Kota Bandung tidak semata-mata dapat disederhanakan sebagai masalah sampah.
Kapasitas saluran, sedimentasi, kondisi tali air, hingga keterhubungan jaringan drainase antarwilayah juga menjadi faktor yang menentukan. Pada September lalu, misalnya, Pemkot Bandung kembali mengevaluasi sejumlah titik genangan setelah hujan mengguyur Kota Bandung selama dua hari. Evaluasi diarahkan pada perbaikan tali air dan saluran drainase.
Artinya, pekerjaan rumah pemerintah bukan sekadar membersihkan sampah yang masuk ke saluran, tetapi memastikan infrastruktur drainase benar-benar mampu menampung dan mengalirkan air ketika hujan deras terjadi.
Sebelumnya, Pemkot Bandung menyebut 61 dari 68 titik genangan yang masuk dalam indikator penanganan telah ditangani. Namun, angka tersebut tidak serta-merta berarti Kota Bandung terbebas dari ancaman genangan, karena masih ada tujuh titik yang memerlukan penanganan dan indikator tersebut tidak mencakup seluruh kemungkinan lokasi genangan di kota.
Tantangan semakin besar karena Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut musim hujan mendatang diperkirakan berlangsung relatif singkat, sekitar Desember hingga Februari, tetapi dengan volume hujan yang disebut setara akumulasi enam bulan. Kondisi itu berpotensi membuat intensitas hujan lebih tinggi dan meningkatkan risiko genangan maupun banjir.
Dengan kondisi tersebut, peringatan kepada perangkat daerah saja tidak cukup. Publik membutuhkan bukti bahwa saluran yang selama ini menjadi titik rawan benar-benar sudah dibersihkan, diperbaiki, dan memiliki kapasitas yang memadai.
Pemkot Bandung memang telah memiliki sistem peringatan dini banjir yang terintegrasi melalui Bandung Command Center. Sistem tersebut didukung 13 CCTV pemantauan air dan sensor ketinggian muka air di dua lokasi strategis.
Namun, teknologi peringatan dini hanya akan efektif jika diikuti kemampuan infrastruktur dan respons lapangan yang cepat. Alarm dapat memberi tahu ketika air naik, tetapi tidak menyelesaikan saluran yang mampet atau kapasitas drainase yang tidak mampu menampung limpasan.
Karena itu, musim hujan tahun ini akan menjadi ujian nyata bagi Pemkot Bandung. Bukan lagi soal seberapa sering pemerintah menyatakan siap, melainkan apakah warga benar-benar merasakan hasilnya ketika hujan deras turun.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






