KORAN MANDALA –POCARI SWEAT Run Indonesia 2026 tak sekadar menghadirkan lautan pelari di Kota Bandung.
Dengan total 56.559 peserta dari 439 kota di Indonesia, event olahraga tersebut juga membuka ruang perputaran ekonomi yang besar bagi daerah, terutama Kota Bandung sebagai salah satu pusat penyelenggaraan.
Di Bandung, sebanyak 16.000 pelari ambil bagian dalam dua kategori lomba. Sebanyak 7.600 peserta mengikuti kategori 10 kilometer pada Sabtu (19/9/2026), kemudian 8.400 pelari turun di kategori half marathon pada Minggu (20/9/2026), dengan titik start dan finis di kawasan Balai Kota Bandung.
Besarnya jumlah peserta membuat POCARI SWEAT Run bukan hanya menjadi agenda olahraga, tetapi juga menghadirkan ribuan orang dari luar daerah yang berpotensi membelanjakan uang untuk kebutuhan akomodasi, kuliner, transportasi, belanja hingga rekreasi selama berada di Bandung.
Niat Mengadu Nasib ke Kalimantan, pria asal Bandung Barat Berakhir Musibah
Wali Kota Bandung M. Farhan menyebut kehadiran 16.000 pelari tersebut memberikan dampak ekonomi nyata terhadap UMKM dan sektor pariwisata.
“POCARI SWEAT Run menjadi kado istimewa untuk Hari Ulang Tahun Kota Bandung ke-216. Selain menyehatkan warga, kehadiran 16.000 pelari membawa dampak ekonomi nyata bagi UMKM dan sektor pariwisata dengan estimasi dampak ekonomi langsung mencapai Rp89,4 miliar di Jawa Barat,” ujar Farhan.
Angka tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang mengiringi event olahraga berskala nasional. Namun, bagi Kota Bandung, tantangannya bukan berhenti pada ramainya kunjungan dan besarnya transaksi ekonomi.
Perputaran uang tersebut juga menjadi peluang bagi pemerintah daerah untuk memperkuat pendapatan asli daerah (PAD), terutama melalui sektor-sektor yang bersentuhan langsung dengan aktivitas peserta dan wisatawan.
Mulai dari usaha kuliner, hotel dan penginapan, parkir, jasa transportasi, tempat hiburan, hingga berbagai aktivitas ekonomi lainnya berpotensi ikut terdorong selama penyelenggaraan berlangsung.
Karena itu, besarnya event dan jumlah peserta idealnya tidak hanya diukur dari kemeriahan atau banyaknya orang yang datang, tetapi juga dari seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar tinggal di Kota Bandung dan berkontribusi terhadap pendapatan daerah.
Marketing Director PT Amerta Indah Otsuka, Puspita Winawati (Wina), mengatakan penyelenggara terus melakukan evaluasi setiap tahun bersama pemerintah daerah, kepolisian, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan pelaksanaan event semakin baik.
“Tahun ini adalah tahun ke-9 penyelenggaraan POCARI SWEAT Run di Kota Bandung. Setiap tahunnya selalu ada evaluasi dan improvement bersama seluruh stakeholders, Pemerintah Kota, Kepolisian, dan komunitas demi menyediakan running experience terbaik tanpa mengabaikan warga Bandung,” ujar Wina.
Ia juga mengapresiasi warga Bandung yang memberikan dukungan kepada para pelari melalui cheering di sepanjang rute.
Bukan Sekadar Ramai, Harus Tinggalkan Manfaat
POCARI SWEAT Run 2026 juga membawa komitmen terhadap aspek lingkungan melalui program Otsuka Eco Blue. Penyelenggara menggandeng komunitas lokal, termasuk Pandawara Group, untuk membantu memastikan sampah di sepanjang rute kembali dibersihkan setelah kegiatan.
Sampah yang terkumpul akan didaur ulang dan ditargetkan tidak berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), dengan berkoordinasi bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung.
Sementara itu, penyanyi sekaligus penulis lagu asal Bandung, Rizky Febian, turut merasakan kemeriahan event tersebut setelah untuk pertama kalinya mengikuti lomba lari 10 kilometer.
“Pengalaman pertama berlari 10K sungguh menyenangkan dan rasanya spesial banget karena diadakan di kota sendiri. Antusiasme warga luar biasa, bikin suasana terasa sangat hangat dan meriah,” ungkap Rizky.
Puspita mengatakan POCARI SWEAT Run diharapkan terus menjadi wadah yang mendorong masyarakat menjalani pola hidup sehat melalui olahraga.
Dengan puluhan ribu peserta dan estimasi dampak ekonomi mencapai puluhan miliar rupiah, POCARI SWEAT Run menunjukkan bahwa event olahraga memiliki potensi menjadi penggerak ekonomi daerah.
Bagi Kota Bandung, pekerjaan berikutnya adalah memastikan geliat ekonomi tersebut tidak berhenti sebagai angka dampak ekonomi, tetapi ikut tercermin dalam meningkatnya aktivitas usaha lokal dan penerimaan PAD.
