ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Kenaikan harga ayam mulai dirasakan pedagang makanan di Kota Bandung. Kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual di tengah penjualan yang justru mengalami penurunan.
Salah seorang pedagang di kawasan kampus Unisba Tamansari, Engkos, mengatakan harga ayam yang dibelinya di Pasar Baltos saat ini mencapai sekitar Rp48.000 per kilogram.
Menurutnya, harga tersebut mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya yang berada di kisaran Rp43.000 hingga Rp45.000 per kilogram.
“Kalau sebelumnya sekitar Rp45.000, ayam yang biasa Rp43.000. Sekarang sudah naik jadi 48.000 per kg nya,” kata Engkos Saat ditemui di lapaknya Senin (31/8/2026)
Ia mengatakan kenaikan harga bahan baku membuat harga jual ayam kepada konsumen ikut mengalami penyesuaian. Jika sebelumnya satu potong ayam dijual sekitar Rp12.000, kini harganya mencapai Rp13.000.
“Kalau dulu saya jual ayam sekitar Rp12.000 satu potong. Kalau sekarang naik jadi Rp13.000,” ujarnya.
Engkos menuturkan, kenaikan harga ayam terjadi bersamaan dengan kondisi penjualan yang tidak lagi seramai sebelumnya. Ia membandingkan jumlah ayam yang dibawa untuk berjualan saat ini dengan kondisi sebelum pandemi Covid-19.
“Kalau dulu, habis Asar saya bisa jual lima kilo dan masih laku. Sekarang bawa empat kilo saja masih banyak,” tuturnya.
Bahkan, kata dia, sebelum pandemi dirinya mampu membawa belasan hingga puluhan kilogram ayam untuk berjualan. Saat hari libur saja, penjualan masih dapat mencapai sekitar tujuh kilogram.
“Dulu saya bisa membawa 20 kilo, 18 kilo, atau 15 kilo. Kalau hari libur, paling sedikit tujuh kilo. Sekarang empat kilo saja lihat masih banyak,” katanya.
Ia berharap aktivitas perkuliahan tatap muka dapat lebih banyak dilakukan sehingga membantu meningkatkan kembali aktivitas ekonomi pedagang di sekitar kampus.
”Kalau kuliah offline, memang Alhamdulillah lumayan tetapi, jika kuliahnya online aga menurun pembeli.” katanya.
Engkos juga menyoroti dampak program Makan Bergizi Gratis (MBG) terhadap pedagang kecil, khususnya mereka yang berjualan di lingkungan sekolah. Walaupun ia berjualan di kampus Tetapi Menurutnya, keberadaan program tersebut membuat sebagian pedagang kehilangan pembeli.
“Masyarakat kecil sekarang semakin terjepit. Di sekolah-sekolah ada MBG, Jadi yang jualan minim pembeli dan tidak laku,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat mengevaluasi berbagai kebijakan yang berdampak terhadap pedagang kecil agar mereka tetap dapat menjalankan usaha dan memperoleh penghasilan
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






