ADVERTISEMENT
KORAN MANDALA – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak hanya menjadi tradisi tahunan, tetapi juga momentum untuk mengenang, mempelajari, dan meneladani kehidupan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Muchsin Al Fikri, mengatakan Maulid Nabi secara sederhana berarti memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia, peringatan tersebut telah menjadi tradisi yang dilakukan masyarakat secara turun-temurun.
“Arti dari maulid itu kan waktu kelahiran. Maulid itu arti kelahiran dari Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wasallam,” kata Muchsin. Saat dihubungi Senin (24/8/2026)
Menurutnya, masyarakat perlu menyikapi tradisi Maulid Nabi secara bijak. Ia menilai kegiatan seperti pengajian atau tablig akbar masih dapat menjadi bentuk peringatan yang positif, selama tidak diisi dengan hal-hal yang berlebihan.
“Kalau misalnya peringatannya berbentuk pengajian ya, itu masih bisa ditoleransi. Pengajian-pengajian seperti misalnya tablig akbar ya,” ujarnya.
Namun, Muchsin mengingatkan agar peringatan Maulid tidak diisi dengan kegiatan yang mengarah pada kemusyrikan maupun praktik yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
“Tapi kalau sudah menjurus kepada kegiatan-kegiatan yang berbau mistik dan lain sebagainya, nah itu saya kira sudah mulai keluar dari takaran pengisian maulid,” katanya.
Ia menuturkan, esensi utama peringatan Maulid Nabi adalah mengingat kembali sosok Rasulullah SAW sebagai figur yang dapat menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan.
“Yang paling esensi dari peringatan Maulid Nabi itu kan artinya kita pertama harus mengingat kembali ya, dan juga mencontoh lah ya. Bahwa kita ini punya satu figur yang harus kita idolakan,” tutur Muchsin.
Menurutnya, Rasulullah SAW tidak hanya menjadi teladan dalam urusan agama, tetapi juga dalam kepemimpinan, perdagangan, kehidupan keluarga hingga berbagai aspek kehidupan sosial.
“Jadi Nabi Muhammad itu menjadi satu figur yang sukses. Beliau bukan hanya secara pribadi ataupun di dalam urusan agama saja,” ujarnya.
Muchsin juga mendorong masyarakat menjadikan momentum Maulid Nabi sebagai kesempatan untuk kembali mempelajari dan menghidupkan sunah-sunah Rasulullah yang mulai ditinggalkan.
“Esensinya adalah kita mencontoh dan juga menghidupkan sunah-sunah Rasulullah ya. Sunah-sunah Rasulullah yang hari ini mungkin ada yang sudah ditinggalkan, ada yang sudah dilupakan. Ini saatnya kita menghadirkan kembali,” katanya.
Ia juga menilai pembacaan Barzanji dalam sejumlah peringatan Maulid sebaiknya tidak berhenti pada pembacaan teks berbahasa Arab. Masyarakat perlu memahami makna dan sejarah Rasulullah yang terkandung di dalamnya.
“Barzanji ini jangan hanya dibaca ya Arabnya saja gitu ya, ataupun dilagukan ya, didendangkan. Tapi yang paling urgensinya kan diterjemahkan ya, diterjemahkan tentang isinya apa gitu,” jelasnya.
Menurut Muchsin, pemahaman terhadap sirah Nabi sejak kelahiran hingga wafat dapat memberikan banyak pelajaran bagi kehidupan umat Islam.
“Nah kalau kita mengetahui sirah Rasulullah ya, dari mulai lahir, ketika diangkat jadi nabi sampai beliau wafat ya, itu semuanya mengandung hikmah,” pungkasnya.
Ia berharap peringatan Maulid Nabi di Indonesia dapat terus menjadi momentum positif untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus menerapkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






