KORAN MANDALA – Nama-nama jalan di Kota Bandung tidak terlepas dari sejarah perkembangan kawasan, tokoh masyarakat, hingga peristiwa penting yang terjadi di suatu tempat. Ahli Geografi dan Toponimi, T Bachtiar, menjelaskan penamaan jalan di Bandung memiliki latar belakang yang beragam.
Menurut T Bachtiar, sejumlah nama jalan berasal dari nama kampung yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Nama tersebut kemudian digunakan sebagai nama jalan ketika kawasan tersebut berkembang.
“Sejarah nama-nama jalan di Kota Bandung ada yang bersumber dari nama kampung, kemudian dijadikan nama jalan karena nama kampung itu sudah populer di masyarakat,” ujar T Bachtiar Saat dihubungi Koran Mandala Minggu (23/8/2026)
Selain nama kampung, penamaan jalan juga dapat berasal dari tokoh yang memiliki peran dalam perkembangan suatu wilayah. Ada pula nama jalan yang berkaitan dengan kepemilikan tanah maupun bangunan yang berada di kawasan tersebut.
“Ada nama tokoh warga setempat yang berperan dalam pengembangan suatu daerah, atau kawasan itu semula tanah miliknya, maka namanya dijadikan nama jalan,” katanya.
Ia mencontohkan penamaan jalan yang berkaitan dengan bangunan atau fasilitas tertentu. Menurutnya, keberadaan sebuah rumah sakit di suatu kawasan dapat menjadi dasar pemberian nama jalan.
“Ada bangunan rumah sakit, maka jalan di depannya dinamai Jalan Rumah Sakit,” tuturnya.
Sementara itu, ketika sebuah kawasan baru dibangun dan dilengkapi jaringan jalan, nama jalan dapat ditentukan berdasarkan tema tertentu yang telah direncanakan. Misalnya, menggunakan nama ilmuwan, binatang, maupun alat musik.
“Ketika suatu kawasan dibangun, dibuat jalan-jalan, maka jalan itu dinamai dengan nama-nama yang sudah direncanakan. Misalnya kelompok nama-nama ilmuwan, nama binatang, nama alat musik, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Jalan Lembong dan Peristiwa APRA
T Bachtiar menjelaskan, Contohnya Jalan Lembong memiliki latar belakang sejarah yang berkaitan dengan peristiwa perjuangan dan gugurnya seorang anggota militer.
Nama Jalan Lembong diambil untuk mengenang Letnan Kolonel Adolf Gustaaf Lembong yang gugur setelah ditembak oleh milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA).
“Jalan Lembong diberikan untuk menghormati tokoh yang gugur di sana. Jalan Lembong diambil dari nama tentara yang gugur di sana, yaitu Letnan Kolonel Adolf Gustaaf Lembong,” katanya.
Peristiwa tersebut terjadi pada 23 Januari 1950 di depan Markas Staf Kwartier Divisi Siliwangi, yang kini menjadi Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Kota Bandung.
Selain Jalan Lembong, T Bachtiar menyebut sejumlah nama jalan di Bandung yang berkaitan dengan tokoh maupun sejarah perjuangan, di antaranya Jalan Ibu Inggit Garnasih, Jalan Soekarno-Hatta, dan Jalan Oto Iskandar Di Nata.
Pentingnya Menjaga Nama Jalan Lama
Menurut T Bachtiar, masyarakat perlu memahami sejarah yang terkandung di balik nama-nama jalan. Ia juga mengingatkan agar nama jalan yang sudah lama dikenal masyarakat tidak mudah diganti dengan nama tokoh.
“Sebaiknya nama-nama jalan itu tetap mempertahankan nama-nama lama, tidak diganti dengan nama-nama orang,” ujarnya.
Ia mencontohkan Jalan Binong, Jalan Ciateul, dan Jalan Dago sebagai nama jalan yang menurutnya sebaiknya tetap dipertahankan.
“Bagusnya tidak diganti dengan nama orang, karena akan menghilangkan ingatan kolektif masyarakat,” katanya.
T Bachtiar menilai penghormatan terhadap tokoh yang berjasa tidak harus dilakukan dengan mengganti nama jalan. Menurutnya, penghargaan dapat diberikan melalui dokumentasi sejarah dan penulisan biografi.
“Penghargaan kepada orang-orang yang berjasa dibuat buku biografi, yang disimpan di perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum,” pungkasnya.

Potret Braga Pada Masa Kolonial Hindia Belanda Tahun 1906 (Foto: KITLV)
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.