KORAN MANDALA – Niat mencari nafkah jauh dari kampung halaman justru berujung persoalan bagi 10 warga Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Mereka mengaku kesulitan setelah bekerja dalam sebuah proyek bangunan di Kecamatan Betayau, Desa Kujau, Kabupaten Tana Tidung, Kalimantan Utara.
Para pekerja tersebut datang ke Kalimantan Utara dengan harapan mendapatkan penghasilan dari pekerjaan proyek bangunan. Namun, mereka mengaku pembayaran yang diterima tidak sesuai dengan harapan.
Kondisi itu membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan selama berada di perantauan. Jauh dari keluarga dan kampung halaman, mereka kini berharap ada bantuan pemerintah agar persoalan tersebut segera menemukan jalan keluar.
ADVERTISEMENT
Konser Ratusan Juta di Tengah Defisit APBD Bandung, Prioritas Anggaran Dipertanyakan
Salah seorang pekerja asal Desa Tanjungsari, Kecamatan Pasawahan, Dadang Permana, meminta perhatian Pemerintah Kabupaten Purwakarta atas kondisi yang dialami dirinya bersama sembilan rekan lainnya.
“Kami warga Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, minta bantuannya kepada Bapak Bupati Purwakarta. Saya sekarang berada di Kalimantan Utara,” ujar Dadang.
Menurut Dadang, dirinya bersama rekan-rekannya bekerja dalam proyek bangunan di wilayah Kalimantan Utara. Mereka berharap pekerjaan tersebut dapat memberikan penghasilan yang layak setelah harus meninggalkan kampung halaman dan menempuh perjalanan jauh.
Namun, harapan tersebut tidak berjalan sesuai rencana.
“Saya bekerja di bangunan, tapi gaji yang tidak sesuai dengan harapan kami semua yang berada di Kalimantan Utara ini,” katanya.
Persoalan pembayaran tersebut kini tidak hanya menyangkut besaran upah. Para pekerja juga menghadapi ketidakpastian mengenai kebutuhan hidup selama berada di Kalimantan Utara, termasuk bagaimana mereka dapat kembali ke Purwakarta.
Bagi para pekerja, situasi tersebut menjadi semakin berat karena mereka berada ribuan kilometer dari keluarga. Keputusan merantau sebelumnya diambil dengan harapan hasil pekerjaan dapat membantu perekonomian keluarga di kampung halaman.
Alih-alih membawa pulang hasil kerja, mereka justru mengaku membutuhkan bantuan untuk keluar dari persoalan yang dihadapi.
Dadang pun meminta Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein memberikan perhatian terhadap kondisi mereka.
“Kiranya Bapak Bupati Purwakarta menolong kami semua dengan apa pun caranya,” ucap Dadang.
Para pekerja berharap Pemerintah Kabupaten Purwakarta dapat membantu mencarikan solusi, termasuk memfasilitasi kepulangan mereka jika memang tidak memungkinkan melanjutkan pekerjaan di lokasi tersebut.
Kasus ini sekaligus memperlihatkan kerentanan pekerja yang mencari penghasilan jauh dari daerah asal. Ketika persoalan pembayaran muncul, posisi pekerja dapat menjadi semakin sulit karena mereka tidak hanya menghadapi masalah pekerjaan, tetapi juga biaya hidup, jarak dari keluarga, dan kebutuhan untuk kembali ke kampung halaman.
Namun, hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan dari pihak perusahaan atau pelaksana proyek mengenai persoalan pembayaran yang dikeluhkan para pekerja tersebut. Demikian pula belum diketahui secara pasti bentuk hubungan kerja, kesepakatan upah, serta berapa nilai pembayaran yang telah diterima masing-masing pekerja.
Karena itu, persoalan ini membutuhkan penjelasan dari pihak terkait agar duduk perkaranya menjadi terang dan hak-hak para pekerja dapat dipastikan.
Bagi 10 warga Pasawahan tersebut, perjalanan ke Kalimantan Utara yang semula dimulai dengan harapan memperbaiki kondisi ekonomi kini berubah menjadi penantian.
Mereka berharap ada kepastian dan bantuan agar persoalan pekerjaan serta pembayaran dapat diselesaikan dan mereka bisa kembali berkumpul dengan keluarga di Purwakarta.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






