ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Musim kemarau mulai menunjukkan dampaknya di sejumlah wilayah Kabupaten Purwakarta. Debit air di beberapa saluran irigasi menyusut, bahkan saluran yang berada di depan kediaman Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, di kawasan Citalang, dilaporkan mengering.
Bagi Om Zein, kondisi tersebut bukan sekadar dampak kemarau biasa. Setelah 26 tahun tinggal di kawasan tersebut, ia mengaku baru kali ini melihat saluran irigasi di depan rumahnya kehilangan aliran.
“Saya tinggal di Desa Salam ini dari tahun 2000, berarti sudah 26 tahun. Di Lembur Harapan ini saya sudah 26 tahun, baru tahun ini, baru kali ini saluran irigasi depan rumah saya mengalami kekeringan,” ujar Om Zein.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, mengeringnya saluran irigasi perlu dilihat sebagai tanda adanya perubahan pada kondisi sumber daya air di Purwakarta. Persoalannya, kata dia, bukan hanya bagaimana mengalirkan air ke lahan pertanian, tetapi juga bagaimana menjaga sumber air agar tetap tersedia.
Berkurangnya debit irigasi dapat berdampak langsung terhadap petani, terutama jika musim kemarau berlangsung lebih panjang. Ketersediaan air untuk sawah berpotensi menurun, sementara masyarakat yang bergantung pada sumber air di lingkungan sekitar juga dapat menghadapi persoalan serupa.
Om Zein menilai perubahan kondisi air tidak dapat dipisahkan dari perubahan lingkungan secara lebih luas, termasuk kondisi tanah, kawasan pegunungan dan keberadaan pepohonan.
“Artinya sudah ada yang berubah dengan air kita, sudah ada yang berubah dengan tanah kita, sudah ada yang berubah dengan gunung kita, sudah ada yang berubah dengan pohon kita,” katanya.
Ia menegaskan, persoalan kekeringan tidak cukup diatasi hanya dengan memperbaiki jaringan irigasi atau menambah pompa air. Upaya tersebut dinilai tidak akan banyak membantu apabila sumber air di kawasan hulu terus mengalami penurunan.
Karena itu, menurut Om Zein, perlindungan kawasan yang berfungsi sebagai daerah resapan dan penyimpan air harus menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan air. Kawasan pegunungan, lahan terbuka dan tutupan pepohonan dinilai memiliki peran penting terhadap keberlangsungan sumber air.
Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kekeringan sebagai persoalan yang baru diperhatikan ketika musim kemarau tiba. Menurutnya, upaya menjaga lingkungan harus dilakukan sebelum krisis air terjadi.
“Untuk itu, saya berpesan pada semua, kita belum terlambat. Yuk, jagain gunung dengan pohonnya,” tutur Om Zein.
Selain menjaga kawasan hijau, ia mendorong agar fungsi lahan tetap dipertahankan sesuai peruntukannya. Lahan persawahan, kawasan resapan dan wilayah pegunungan, kata dia, perlu dijaga agar tidak kehilangan fungsi ekologisnya.
Mengeringnya saluran irigasi di kawasan tempat tinggal Om Zein menjadi gambaran kecil dari persoalan yang lebih besar. Ketika debit air menurun, dampaknya tidak berhenti pada saluran irigasi, tetapi dapat merembet ke sektor pertanian dan kebutuhan masyarakat.
Bagi Om Zein, kondisi yang baru pertama kali ia lihat selama 26 tahun tinggal di kawasan tersebut merupakan peringatan bahwa persoalan air perlu ditangani dari sumbernya.
Kemarau, dengan demikian, bukan hanya soal saluran irigasi yang mengering. Kondisi itu juga menjadi pengingat bahwa ketersediaan air sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang menjaganya.
Sebab, ketika sumber air mulai kehilangan daya dukung, memperbaiki saluran saja tidak cukup. Menjaga kawasan pegunungan, mempertahankan pepohonan dan melindungi daerah resapan menjadi langkah penting agar air tetap tersedia ketika musim kemarau kembali datang.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






