KORANMANDALA.COM – Jalan Braga seharusnya menjadi ruang bagi wisatawan untuk menikmati suasana kota, berswafoto, hingga menghabiskan waktu bersama keluarga. Namun, kenyamanan itu masih terusik oleh aktivitas sejumlah pengamen yang meminta uang kepada pengunjung.
Keluhan bukan semata karena keberadaan pengamen, melainkan cara sebagian dari mereka ketika meminta uang. Sejumlah pengunjung mengaku merasa risih karena didatangi saat sedang menikmati suasana Braga, bahkan ada yang tetap dimintai uang meski tidak memberikan respons.
Pantauan KORANMANDALA.COM pada Selasa (11/8/2026) menunjukkan aktivitas pengamen lebih mudah ditemui pada sore hingga malam hari. Intensitasnya disebut meningkat menjelang akhir pekan, terutama Jumat hingga Minggu.
Belum Puncak Kemarau, Kebakaran Lahan di Bandung Sudah 59 Kali
Bagi sebagian pengunjung, keberadaan pengamen sebenarnya bukan persoalan selama dilakukan secara wajar. Masalah muncul ketika permintaan uang dianggap terlalu mendesak atau disertai sikap yang membuat wisatawan tidak nyaman.
Anggota Satpol PP, Irwan Setiawan (51), mengatakan keluhan mengenai aktivitas pengamen memang beberapa kali disampaikan oleh pengunjung.
“Biasanya laporan datang dari pengunjung. Kalau ada laporan, kami tindak lanjuti, bisa diamankan dan dibawa ke Mako. Kalau ada dugaan membawa obat-obatan, bisa dilakukan pemeriksaan dan diserahkan ke Polsek jika diperlukan,” ujar Irwan.
Menurut Irwan, petugas melakukan pengawasan melalui penjagaan maupun patroli. Namun, persoalan di kawasan Braga tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pengamen.
Keterbatasan lahan parkir serta kendaraan wisata seperti odong-odong yang terkadang berhenti di area tikungan juga disebut menambah persoalan ketertiban di kawasan tersebut.
Irwan mengatakan sejumlah persoalan tersebut telah disampaikan kepada pimpinan dan dinas terkait. Namun, menurutnya, penanganannya masih membutuhkan tindak lanjut yang lebih maksimal.
Pergi Saat Petugas Datang, Kembali Setelah Patroli
Persoalan pengamen juga dirasakan oleh pelaku usaha yang setiap hari beraktivitas di kawasan Braga.
Feby (20), penjaga booth foto, mengatakan masih menemukan pengamen yang meminta uang kepada pengunjung dengan cara yang dinilai kurang nyaman.
Menurutnya, intensitas kejadian memang tidak sesering sebelumnya. Namun, perilaku tersebut belum sepenuhnya hilang.
“Kalau tidak dikasih, ada yang marah. Menurut saya rezeki bisa dari mana saja, jadi tidak perlu sampai marah-marah,” kata Feby.
Feby menilai kehadiran petugas sebenarnya cukup membantu menjaga ketertiban. Namun, persoalannya adalah konsistensi pengawasan.
Ia mengaku pernah melihat pengamen meninggalkan lokasi ketika mengetahui petugas sedang berpatroli. Namun, setelah petugas pergi, mereka kembali beraktivitas di kawasan yang sama.
Kondisi tersebut membuat penertiban seolah menjadi persoalan berulang: petugas datang, pengamen pergi, kemudian aktivitas kembali muncul setelah situasi dianggap aman.
Pengunjung: Jangan Ganggu Saat Sedang Foto
Keluhan serupa disampaikan Ian (22), pengunjung Jalan Braga. Ia mengatakan aktivitas pengamen cukup mudah ditemukan, meskipun tidak semua pengamen meminta uang secara langsung.
Menurutnya, ada pengamen yang hanya bernyanyi di dekat pengunjung kemudian menunggu diberikan uang. Namun, ia juga pernah menemukan pengamen yang menggunakan alasan tertentu untuk meminta uang.
“Kadang bikin risih, apalagi kalau kita sedang foto. Mereka nyanyi dekat kita lalu menunggu dikasih uang,” ujar Ian.
Meski merasa terganggu, Ian mengaku belum pernah mengalami tindakan yang mengarah pada kekerasan.
Ia berharap pemerintah dan petugas terkait memiliki pola pengawasan yang lebih jelas sehingga kawasan Braga tetap nyaman bagi wisatawan sekaligus tidak mengabaikan persoalan sosial yang ada di dalamnya.
Keberadaan pengamen sendiri bukan persoalan baru di kawasan wisata. Namun, ketika aktivitas meminta uang dilakukan dengan cara yang dianggap memaksa, persoalannya bergeser menjadi isu ketertiban dan kenyamanan publik.
Apalagi Jalan Braga merupakan salah satu kawasan yang menjadi magnet wisata di Kota Bandung. Setiap hari, wisatawan datang untuk menikmati suasana kawasan, berburu kuliner, berfoto, maupun sekadar berjalan kaki.
Karena itu, penataan tidak cukup hanya dilakukan melalui patroli sesaat. Konsistensi pengawasan, penanganan terhadap pelanggaran, hingga solusi bagi para pengamen juga menjadi bagian penting agar persoalan tidak terus berulang.
Braga boleh tetap menjadi ruang bagi siapa pun untuk mencari penghidupan. Namun, kenyamanan pengunjung juga perlu dijaga.
Sebab, ketika wisatawan mulai merasa harus membayar hanya agar bisa menikmati ruang publik tanpa gangguan, persoalannya bukan lagi sekadar soal pengamen bernyanyi—melainkan bagaimana sebuah kawasan wisata dikelola dan dijaga untuk semua. (Sufyan Al Ansory/MG)
