ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Musim kemarau mulai memasuki Kota Bandung. Di tengah kondisi tersebut, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi ancaman yang harus diantisipasi sejak dini.
Polrestabes Bandung pun tidak ingin menunggu api membesar. Kesiapan personel hingga berbagai peralatan penanganan kebakaran diperiksa untuk memastikan seluruh unsur bisa bergerak cepat ketika kondisi darurat terjadi.
Kesiapan tersebut ditunjukkan melalui Apel Gelar Pasukan dan Peralatan Penanganan Karhutla di Kota Bandung, Selasa (11/8/2026).
ADVERTISEMENT
Jelang HUT ke-81 RI, Langkah Paskibraka Kota Bandung Ditempa Setiap Hari di Balai Kota
Apel melibatkan berbagai unsur, mulai dari Polrestabes Bandung, TNI, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar), Basarnas, Satpol PP hingga instansi dan elemen terkait lainnya.
Tidak hanya barisan personel yang diperiksa. Berbagai sarana dan prasarana pendukung penanganan kebakaran juga dicek untuk memastikan tidak ada peralatan yang gagal berfungsi ketika dibutuhkan di lapangan.
Inspektur apel, Kombes Pol Dedi Supriyadi, S.I.K., mengatakan pengecekan dilakukan sebagai langkah memastikan kesiapan seluruh unsur menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau.
“Bersama-sama dengan teman-teman dari TNI, BPBD, kemudian Damkar, Satpol PP, semuanya, kita mengecek kesiapan personel, kemudian sarana dan prasarananya,” ujar Dedi.
Hasil pengecekan menunjukkan personel maupun peralatan pendukung dalam kondisi siap digunakan.
“Alhamdulillah, tadi sama-sama kita saksikan, sarana dan prasarana lengkap, personel juga siaga, personel juga sehat. Jadi kita siap di Kota Bandung ini menghadapi, mengantisipasi karhutla,” katanya.
Meski karakteristik Kota Bandung berbeda dengan sejumlah wilayah lain yang memiliki hamparan lahan lebih luas, potensi kebakaran tetap tidak boleh dianggap remeh.
“Mungkin kalau di Kota Bandung, lahan ya tepatnya. Berbeda dengan provinsi-provinsi yang lain,” ujar Dedi.
Karena itu, kepolisian mengedepankan langkah pencegahan. Personel diminta meningkatkan deteksi dini dan patroli, terutama di wilayah yang memiliki potensi terjadinya kebakaran.
Edukasi kepada masyarakat juga akan diperkuat. Warga dinilai memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api, terutama dengan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran saat kondisi lingkungan kering.
Dedi menegaskan penanganan karhutla bukan pekerjaan satu institusi. Kecepatan respons sangat bergantung pada koordinasi berbagai pihak ketika kebakaran terjadi.
“Tugas pencegahan dan penanggulangan karhutla tidak bisa dipikul oleh Polri sendiri. Berhasilnya operasi ini sangat bergantung pada sinergisitas dan kolaborasi lintas sektoral antara BPBD, Damkar, Basarnas, relawan, dan seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.
Dalam arahannya, Dedi memberikan sejumlah penekanan kepada seluruh personel. Mereka diminta meningkatkan patroli dan deteksi dini, memperkuat sosialisasi kepada masyarakat, memastikan kesiapan sarana dan prasarana, serta menjaga koordinasi lintas sektor.
“Lakukan deteksi dini dan patroli secara intensif. Gencarkan edukasi dan sosialisasi. Cek kesiapan sarana dan prasarana. Perkuat sinergisitas lintas sektoral. Utamakan keselamatan personel,” ujarnya.
Penekanan terhadap keselamatan personel menjadi perhatian penting. Dalam penanganan kebakaran, petugas dituntut bergerak cepat, tetapi tetap harus memperhitungkan kondisi dan risiko di lapangan.
Melalui apel tersebut, Polrestabes Bandung bersama TNI, BPBD, Damkar, Basarnas, Satpol PP dan unsur terkait lainnya memastikan seluruh kekuatan telah disiapkan menghadapi musim kemarau.
Bagi aparat, kesiapsiagaan bukan sekadar soal menyiapkan pasukan ketika api sudah muncul. Deteksi dini, pencegahan dan koordinasi sejak awal menjadi kunci agar potensi kebakaran tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar di Kota Bandung. (Supyan Al Ansory)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






