KORANMANDALA.COM – Terik matahari dan suara hentakan sepatu berpadu di kawasan Balai Kota Bandung, Senin (10/8/2026).
Puluhan pelajar berdiri tegap dalam barisan. Setiap langkah, ayunan tangan hingga perubahan formasi harus dilakukan nyaris tanpa celah.
Mereka adalah calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Bandung yang tengah menjalani latihan intensif menjelang upacara HUT ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026.
Sisi Lain Alun-Alun Bandung, Basement Dikeluhkan Bau Pesing dan Kumuh
Bagi para pelajar tersebut, tugas mengibarkan Sang Merah Putih bukan sekadar berdiri di tengah lapangan. Di balik beberapa menit pelaksanaan upacara, ada latihan berulang, disiplin ketat dan tuntutan untuk menyatukan gerakan dari puluhan siswa yang berasal dari sekolah berbeda.
Pantauan di lapangan menunjukkan para anggota Paskibraka terus mengulang latihan baris-berbaris. Ketepatan langkah, tempo, kerapihan barisan hingga kekompakan gerakan menjadi perhatian utama pelatih.
Randika (20), salah satu pelatih Paskibraka, mengatakan proses latihan telah dimulai sejak 1 Agustus 2026 dan akan berlangsung hingga para anggota menjalankan tugas pada upacara kemerdekaan.
Menurutnya, para anggota berasal dari sekitar 30 hingga 40 SMA dan SMK negeri di Kota Bandung. Perbedaan latar belakang latihan membuat proses menyamakan kemampuan menjadi tantangan tersendiri.
“Latihan dimulai setiap hari dari tanggal 1 sampai nanti penugasan upacara. Karena pesertanya dari banyak sekolah, yang paling penting kita samakan kemampuan, terutama tempo langkah, gerakan PBB dan kekompakan,” ujar Randika.
Tak hanya soal langkah dan gerakan, para anggota juga dituntut memahami bahwa setiap posisi dalam formasi memiliki tanggung jawab yang sama penting.
Mereka tidak diarahkan untuk memilih posisi berdasarkan keinginan pribadi. Sebaliknya, setiap anggota harus siap menerima dan menjalankan tugas yang diberikan dengan penuh tanggung jawab.
Menurut Randika, pembentukan mental dan kedisiplinan menjadi bagian yang tidak kalah penting. Para anggota harus memiliki kesiapan untuk menjalankan tugas sebaik mungkin ketika berada di hadapan masyarakat pada hari pelaksanaan upacara.
Bagi sebagian anggota, perjuangan tersebut juga harus dibarengi dengan kewajiban sebagai pelajar.
Aurora Mahyariski Ramadhani (15), siswi SMK Negeri 7 Bandung, mengaku harus bekerja lebih keras untuk membagi waktu antara latihan Paskibraka dan kegiatan sekolah.
“Yang paling susah itu menyamakan tempo baris dengan teman-teman. Terus pelajaran juga ada yang tertinggal karena latihan, jadi harus pintar membagi waktu,” kata Aurora.
Meski menghadapi tantangan tersebut, Aurora mengaku bangga mendapat kesempatan menjadi bagian dari Paskibraka Kota Bandung. Baginya, kesempatan mengemban tugas pada upacara kemerdekaan merupakan pengalaman yang tidak datang setiap hari.
Ia bertekad menjalankan tugas dengan maksimal sekaligus membawa nama baik sekolah dan Kota Bandung.
“Pastinya ingin menjalankan tugas dengan maksimal dan membawa nama baik sekolah sama Kota Bandung. Setelah tugas selesai juga, jiwa Paskibrakanya jangan cuma saat upacara, tapi bisa diterapkan sehari-hari,” ujarnya.
Semakin dekat dengan 17 Agustus, porsi latihan pun terus dimatangkan. Kesalahan kecil dalam tempo, kerapihan barisan maupun kekompakan gerakan masih terus diperbaiki.
Di balik barisan yang terlihat sederhana, tersimpan proses panjang untuk membentuk puluhan pelajar menjadi satu kesatuan. Mereka dituntut bergerak dalam irama yang sama, menjaga disiplin dan menyingkirkan kepentingan pribadi demi satu tugas: mengibarkan Sang Merah Putih dengan sempurna.
Kini, waktu mereka tinggal menghitung hari.
Pada 17 Agustus nanti, seluruh latihan yang dilakukan sejak awal Agustus akan diuji di hadapan masyarakat Kota Bandung.
Ketika bendera Merah Putih perlahan naik ke puncak tiang, setiap langkah dan gerakan para Paskibraka akan menjadi bagian dari penghormatan kepada bangsa dan perjuangan para pendahulu. (Wistia Adi Nurahman/MG)
