KORANMANDALA.COM – Krisis kekurangan guru di Jawa Barat dinilai harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah. Pakar pendidikan Prof. Cecep Darmawan menyebut pengangkatan guru aparatur sipil negara (ASN) menjadi langkah utama untuk menjaga layanan pendidikan tetap berjalan.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul temuan DPRD Jawa Barat terkait kebutuhan tenaga pendidik yang mencapai sekitar 6.000 orang. Kondisi itu menjadi salah satu pembahasan utama dalam Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Penyelenggaraan Pendidikan.
Menurut Cecep, persoalan kekurangan guru tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah daerah. Sebab, kewenangan pengangkatan ASN berada di pemerintah pusat.
”Jadi, harusnya yang bicara bukan hanya pemerintah daerah atau pemerintah kabupaten/kota. Ini persoalan bersama karena pemerintah daerah tidak bisa mengangkat, apalagi sekarang tidak boleh ada honorer,” ujar Cecep Saat dihubungi Koran Mandala Kamis (6/8/2026)
Ia menilai pemerintah pusat perlu segera mengambil kebijakan agar kekurangan guru tidak menghambat proses belajar mengajar di sekolah.
”Jangan sampai layanan pendidikan terhambat gara-gara persoalan kebijakan dari pemerintah pusat, misalnya tidak segera mengangkat ASN. Tidak ada cara lain kecuali mengangkat guru ASN,” katanya.
Cecep menegaskan, pengangkatan guru ASN bukan sekadar salah satu pilihan, melainkan langkah utama yang harus dilakukan pemerintah jika serius menjaga kualitas pendidikan.
”Ini bukan salah satu cara, tapi satu-satunya cara harus mengangkat ASN,” tegasnya.
Selain itu, Cecep meminta pemerintah melakukan pemetaan kebutuhan guru secara berkala. Hal tersebut penting mengingat setiap tahun terdapat guru ASN yang memasuki masa pensiun.
”Harus ada pemetaan terhadap guru-guru di daerah. Tiap hari, tiap bulan ada yang pensiun. Tidak boleh ada istilah moratorium pengangkatan ASN guru,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat Yomanius Untung menyebut kekurangan guru di Jabar sudah berada pada kondisi kritis. Bahkan, persoalan tersebut mulai dirasakan hingga sekolah-sekolah unggulan.
”Paling yang disorot sekarang itu adalah tentang kekurangan guru. Kekurangan guru ini ada pada titik kritis sebenarnya. Karena di sekolah-sekolah favorit saja gurunya sudah kekurangan, apalagi di sekolah-sekolah ini (di daerah),” kata Yomanius di Bandung, Selasa (4/8).

guru honorer Supriyani (ANTARA News, ANTARA/Jojon)
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.