KORANMANDALA.COM –Deretan lapak makanan dan minuman yang dulu menjadi magnet bagi ribuan pengunjung di kawasan Masjid Al Jabbar, Kota Bandung, kini kehilangan denyutnya.
Suasana yang semula ramai dan penuh antrean berubah menjadi lengang. Di balik etalase yang masih dipenuhi aneka makanan, para pedagang hanya bisa duduk menanti pembeli yang tak kunjung datang.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Rabu (5/8/2026), sebagian besar lapak terlihat sepi. Kursi dan meja yang disediakan untuk pengunjung banyak yang kosong.
Sesekali memang ada wisatawan yang melintas, tetapi tak sedikit yang hanya berjalan-jalan atau beristirahat tanpa membeli makanan maupun minuman yang dijajakan.
Bagi para pedagang, kondisi tersebut bukan sekadar penurunan jumlah pelanggan, melainkan ancaman nyata terhadap sumber penghidupan mereka.
Salah seorang pedagang, Bapak Kumis (45), mengaku sudah hampir dua tahun berjualan di bazar Masjid Al Jabbar. Ia mengatakan pendapatan yang dulu cukup untuk menghidupi keluarga kini terus merosot dalam beberapa bulan terakhir.
“Sekarang memang sepi. Omzet turun jauh dibanding dulu. Banyak pengunjung yang datang ke sini bawa makanan sendiri, jadi yang beli di bazar sedikit sekali. Padahal harga makanan di sini sudah murah, sama saja seperti di warung biasa, tapi tetap susah laku,” katanya saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, setiap hari ia tetap membuka lapak dengan harapan ada pembeli yang datang. Namun, harapan itu kerap berakhir dengan kekecewaan karena hasil penjualan tidak sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan.
Kondisi tersebut, kata dia, perlahan mengikis semangat para pedagang untuk bertahan.
“Kalau begini terus ya paling berhenti jualan. Soalnya sudah tidak ada untungnya,” ujarnya dengan nada pasrah.
Sepinya aktivitas jual beli menjadi pukulan berat bagi para pelaku usaha mikro yang menggantungkan penghasilan dari ramainya kawasan wisata religi tersebut. Jika kondisi ini terus berlangsung, bukan hanya omzet yang hilang, tetapi juga harapan banyak pedagang untuk mempertahankan usaha yang selama ini menjadi tumpuan ekonomi keluarga.
Mereka berharap jumlah pengunjung yang berbelanja dapat kembali meningkat sehingga lapak-lapak yang kini hanya menjadi tempat menunggu harapan bisa kembali hidup dan menjadi sumber penghidupan bagi para pedagang kecil.(Wistia Adi/Koranmandala)
