KORANMANDALA.COM – Persoalan pengangguran masih menjadi tantangan serius di Kota Bandung. Meski berbagai program penempatan tenaga kerja terus dijalankan pemerintah, jumlah warga yang berhasil terserap ke dunia kerja masih belum sebanding dengan banyaknya pencari kerja yang terus bertambah setiap tahun.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Bandung masih berada di kisaran 7 persen, menjadikannya salah satu daerah dengan tingkat pengangguran yang relatif tinggi di Jawa Barat.
Kondisi ini menunjukkan persaingan mendapatkan pekerjaan masih berlangsung ketat, terutama bagi lulusan baru yang setiap tahun memasuki pasar kerja.
Fungsional Madya Pengantar Kerja Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung, Ilham Mulyana, mengakui pemerintah terus berupaya memperluas akses masyarakat terhadap dunia kerja melalui berbagai program penempatan tenaga kerja dan penguatan layanan ketenagakerjaan.
Menurut Ilham, hingga pertengahan 2026 Disnaker Kota Bandung telah menyelenggarakan empat kegiatan penempatan tenaga kerja. Namun, dari seluruh rangkaian program tersebut, baru lebih dari 500 warga Kota Bandung yang tercatat berhasil memperoleh pekerjaan.
“Sampai saat ini sudah lebih dari 500 warga Kota Bandung yang berhasil diterima bekerja. Belum termasuk peserta dari luar Kota Bandung karena memang tidak kami data secara khusus,” ujar Ilham.
Ia mengatakan, tantangan dunia kerja saat ini tidak hanya terbatas pada ketersediaan lapangan pekerjaan, tetapi juga kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan industri.
Karena itu, perusahaan kini tidak lagi hanya melihat ijazah, melainkan juga keterampilan, pengalaman, serta sertifikasi yang dimiliki pelamar.
“Saat ini perusahaan tidak hanya melihat ijazah, tetapi juga kompetensi yang dimiliki pelamar. Kompetensi tambahan menjadi nilai lebih yang sangat dibutuhkan dalam proses rekrutmen,” katanya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Disnaker Kota Bandung mengembangkan sistem pencocokan kerja melalui aplikasi NEW BIMMA yang menghubungkan kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan perusahaan.
Selain itu, berbagai pelatihan berbasis kompetensi seperti digital marketing, public speaking, hingga persiapan menghadapi proses rekrutmen juga terus diberikan guna meningkatkan daya saing tenaga kerja.
Meski demikian, berbagai program tersebut dinilai belum cukup untuk menekan angka pengangguran secara signifikan.
Persoalan mendasar tetap berada pada terbatasnya penciptaan lapangan kerja baru dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah angkatan kerja setiap tahun.
Tanpa peningkatan investasi dan ekspansi sektor usaha yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, angka pengangguran di Kota Bandung berpotensi tetap menjadi tantangan dalam beberapa tahun ke depan.
