ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Penutupan permanen Jalan Diponegoro, Kota Bandung, sebagai bagian dari penataan kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu mulai menuai tanggapan dari masyarakat.
Sejumlah warga mengaku mendukung penataan kawasan, namun berharap pelaksanaannya disertai sosialisasi yang lebih baik agar tidak menimbulkan kemacetan dan kebingungan bagi pengguna jalan.
Salah seorang warga, Andi Nenie Sri Lestari, mengaku penutupan Jalan Diponegoro dan pembongkaran sejumlah fasilitas di kawasan tersebut berdampak terhadap aktivitas masyarakat, terutama pengguna jalan.
”Iya sih, sebenarnya terganggu. Karena kan masalahnya jalan di sini itu untuk jalan umum,” kata Andi Nenie , Selasa (14/7/2026).
Ia juga menyinggung pembongkaran perpustakaan di kawasan Gedung Sate yang dilakukan bersamaan dengan penataan tersebut.
”Iya Dibongkar semua, karena itu kan mungkin perintah Bapak Gubernur. Kita sebagai warga mengikuti saja apa kata beliau,” ujarnya.
Meski demikian, Andi Nenie berharap pelaksanaan kebijakan tersebut dilakukan secara bertahap agar dampaknya terhadap lalu lintas dapat diminimalkan.
”Kalau seandainya macet untuk lalu lintas ya seharusnya bertahap,” katanya.
Menurutnya, pemerintah juga perlu memberikan informasi kepada masyarakat sebelum kebijakan diterapkan.
”Diinfokan sesuai prosedur dulu,” ucapnya.
Andi Nenie menambahkan, harapannya agar setiap kebijakan yang diambil pemerintah tetap mengedepankan kepentingan masyarakat.
”Harapannya pro masyarakat, harusnya pro pada masyarakat,” tuturnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Barat, Dhani Gumelar, memastikan penutupan Jalan Diponegoro bersifat permanen sebagai bagian dari proyek penataan kawasan terpadu Gedung Sate dan Lapangan Gasibu.
”Iya, permanen,”kata Dhani Gumelar, Jumat (10/7/2026)
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






