ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat menambah sekitar 12 ribu kursi pada pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Meski demikian, puluhan ribu calon murid baru masih belum tertampung di sekolah negeri dan akan diarahkan ke sekolah swasta, termasuk yang tergabung dalam program Sekolah Swasta Kerja Sama (SSK).
Kepala Disdik Jawa Barat, Purwanto, mengatakan penambahan kuota tersebut merupakan hasil rekomendasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) setelah dilakukan evaluasi terhadap kapasitas sekolah.
”Kan kemarin ada penambahan kuota dari Kementerian (Kemendikdasmen), dikurasi oleh kementerian terus diperbolehkan untuk dikasih rekomendasi nambah, ada yang 46, ada yang 42, ada yang 40, ada yang 38,” ujar Purwanto, Senin (13/7/2026).
Menurutnya, tambahan kuota itu belum mampu menampung seluruh pendaftar pada SPMB Tahap II.
”Nah itu setelah dibuka pendaftaran tahap dua, itu masih ada 68 ribuan yang tidak bisa diterima,” katanya.
Purwanto menjelaskan angka tersebut hanya berasal dari calon murid yang mendaftar ke sekolah negeri. Di luar itu, banyak lulusan SMP yang sejak awal memilih melanjutkan pendidikan ke sekolah swasta.
”Kan ada juga lulusan yang tidak daftar ke negeri, yang langsung ke swasta. Yang daftar swasta kan banyak. Ini yang daftar ke negeri saja yang tidak diterima itu sekitar 68.000,” ujarnya.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak ragu memilih sekolah swasta karena dinilai memiliki kualitas yang tidak kalah dengan sekolah negeri. Terlebih, Pemprov Jabar telah menyiapkan bantuan melalui program SSK.
”Swasta banyak yang lebih bagus kok dari negeri, dan untuk yang berminat di Sekolah Swasta Kerja Sama (SSK) silakan manfaatkan,” ucapnya.
Dalam program tersebut, pemerintah memberikan bantuan pendidikan sebesar Rp2,7 juta per siswa setiap tahun, terdiri atas Rp1,5 juta untuk Dana Sumbangan Pendidikan (DSP) dan Rp1,2 juta untuk bantuan SPP selama 12 bulan bagi siswa yang memenuhi syarat.
Purwanto menegaskan, calon murid tetap memiliki kebebasan memilih sekolah swasta di luar program SSK apabila dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan.
”Jika merasa bahwa ‘Ah, saya ingin memilih sesuai dengan selera saya sekolahnya tidak masuk di swasta kerja sama’, ya itu tentu kami persilakan juga karena banyak juga sekolah-sekolah swasta yang bagus,” pungkasnya
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






