ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI), Atwar Bajari, menilai media arus utama masih memiliki tempat di kalangan Generasi Z. Namun, menurutnya, tantangan terbesar bukan lagi mempertahankan eksistensi media, melainkan melakukan transformasi agar tetap relevan dengan karakter generasi digital
Ia menegaskan pihaknya tidak datang untuk membenarkan hasil riset kebiasaan bermedia Generasi Z yang dipaparkan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat. Sebaliknya, ISKI mengapresiasi upaya akademis yang memperkuat fakta bahwa media arus utama masih digunakan oleh masyarakat, termasuk Generasi Z.
”Saya datang ke sini sebagai Ketua ISKI, tidak dalam rangka mengamini hasil riset KPID Jawa Barat. Tetapi mengapresiasi sebuah upaya mempertegas secara ilmiah bahwa media mainstream masih tetap digunakan oleh publik, termasuk Gen Z,” ujar Atwar Bajari pada kegiatan Nyemah Atikan Penyiaran: Beyond Broadcasting: Gen Z Content Trends di Kampus Unjani, Jumat (10/7/2026).
Menurut Atwar, hasil riset tersebut tidak berhenti pada kesimpulan bahwa Generasi Z masih mengakses media arus utama. Yang lebih penting, kata dia, adalah memahami perubahan perilaku generasi muda dalam mengonsumsi informasi.
Ia menilai Generasi Z merupakan kelompok yang aktif dalam memanfaatkan berbagai platform media. Di tengah berkurangnya dominasi media konvensional seperti pada masa lalu, generasi muda tetap menjadikan media sebagai salah satu sumber informasi.
”Gen Z itu memang adalah kelompok yang aktif. Di satu sisi media kehilangan posisi yang strategis seperti dulu, tetapi Gen Z masih memanfaatkan media itu secara baik,” katanya.
Karena itu, Atwar menilai media perlu melakukan transformasi agar tetap mampu menjangkau audiens muda tanpa meninggalkan kualitas informasi yang disampaikan.
Menurutnya, media harus menyesuaikan format penyajian informasi dengan karakter Generasi Z yang menginginkan informasi cepat, ringkas, dan mudah dipahami.
”Tinggal bagaimana mentransformasikan posisi media yang punya pengaruh kuat di masa lalu agar berubah sesuai dengan kebutuhan Gen Z yang ciri-cirinya menginginkan informasi instan, tidak terlalu berat, tetapi tetap mencari informasi,” ujarnya.
Sebagai organisasi akademik, ISKI memandang perubahan tersebut perlu terus dikaji secara kritis agar media dapat terus berkembang mengikuti perubahan ekosistem komunikasi.
”Posisi ISKI bukan dalam rangka membenarkan atau mengamini hasil riset, tetapi mengkritisi lebih jauh bagaimana perkembangan media ke depan. Itu yang menjadi perhatian kami,” pungkas Atwar.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






