KORANMANDALA.COM –Di balik pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT) yang digadang-gadang menjadi wajah baru transportasi Kota Bandung, tersimpan kegelisahan ribuan sopir angkot yang menggantungkan hidupnya di jalanan.
Bagi Jujun (45), sopir angkot jurusan Antapani–Ciroyom, proyek tersebut bukan sekadar pembangunan infrastruktur. Ia melihatnya sebagai pertaruhan atas mata pencaharian yang telah ia tekuni selama bertahun-tahun.
Setiap hari Jujun berkeliling Kota Bandung mencari penumpang demi membawa pulang nafkah bagi keluarganya. Kini, di tengah alat berat yang mulai bekerja di sejumlah ruas jalan, muncul pertanyaan yang belum mampu dijawab siapa pun: apakah sopir angkot masih memiliki tempat ketika BRT mulai beroperasi?
Kemarau Bukan Jaminan Aman, Farhan Peringatkan Bandung Bisa Dihantam Banjir Besar
“Kalau sekarang belum ada dampaknya karena proyek masih di bahu jalan. Kami masih narik seperti biasa dan penumpang juga masih mau naik angkot. Yang jadi pertanyaan nanti setelah BRT jalan bagaimana nasib kami. Penumpang angkot bagaimana? Lalu lintas Bandung tambah macet atau tidak? Dengan adanya halte dan bus saja kami khawatir malah makin padat,” kata Jujun saat ditemui di Terminal Antapani, Kota Bandung, Selasa (7/7/2026).
Hingga kini, Jujun mengaku belum pernah mendapatkan penjelasan yang utuh mengenai bagaimana posisi angkot setelah sistem transportasi baru itu berjalan. Ia tidak mengetahui apakah trayek akan dipangkas, apakah sopir akan dialihkan menjadi bagian dari sistem BRT, atau justru harus bersaing langsung dengan moda transportasi baru tersebut.
Ketidakpastian itulah yang menurutnya jauh lebih menakutkan dibandingkan proyek pembangunan yang saat ini berlangsung.
“Kami khawatir kalau nanti trayek dikurangi atau operasional diubah tanpa ada sosialisasi. Jangan sampai kami yang sudah puluhan tahun mencari makan dari angkot malah kehilangan pekerjaan,” ujarnya.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Selama ini angkot menjadi sumber penghasilan bagi ribuan pengemudi di Kota Bandung. Di tengah kondisi jumlah penumpang yang terus menurun akibat maraknya transportasi daring dan kendaraan pribadi, kehadiran BRT dikhawatirkan menjadi tekanan baru apabila tidak dibarengi skema integrasi yang jelas.
Para sopir menegaskan mereka tidak menolak pembangunan transportasi umum yang lebih modern. Mereka memahami masyarakat membutuhkan layanan yang nyaman, aman, dan terintegrasi. Namun modernisasi, menurut mereka, tidak boleh mengorbankan orang-orang yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari pelayanan transportasi publik.
Mereka berharap Pemerintah Kota Bandung bersama pemerintah pusat segera memberikan kepastian mengenai pola integrasi angkot dengan BRT, termasuk nasib para sopir yang selama ini menggantungkan hidup di balik kemudi angkutan kota.
Sebab bagi Jujun, persoalannya bukan sekadar soal hadirnya bus baru di jalanan. Yang dipertaruhkan adalah kepastian untuk tetap bisa bekerja dan membawa pulang nafkah bagi keluarga ketika BRT resmi beroperasi nanti.(Wistia Adi Nurahman/MG)
