KORANMANDALA.COM – Budayawan sekaligus akademisi Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Wawan Gunawan, menegaskan penggunaan nama-nama berbahasa Sunda tidak menghambat perkembangan sektor pariwisata. Sebaliknya, identitas lokal dinilai menjadi kekuatan utama dalam membangun daya tarik destinasi wisata.
Menurut Wawan, pelestarian bahasa Sunda tidak cukup hanya dilakukan melalui pembelajaran di sekolah. Bahasa harus hadir dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, termasuk melalui penamaan ruang publik dan kawasan strategis.
”Bahasa harus terlihat, dibaca, didengar, digunakan, dialami, dirasakan, dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Nama jalan, hotel, taman kota, ruang publik, kawasan wisata, kawasan bisnis, fasilitas pendidikan hingga kawasan perumahan merupakan media pembelajaran bahasa yang paling efektif karena hadir setiap hari dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya Minggu (5/7/2026)
Ia menilai anggapan bahwa penggunaan nama Sunda dapat mengurangi minat wisatawan merupakan pandangan yang keliru. Justru, wisatawan saat ini mencari pengalaman yang autentik dan memiliki ciri khas budaya.
”Jawabannya justru sebaliknya. Berbagai praktik internasional menunjukkan bahwa identitas lokal merupakan daya tarik utama pariwisata. Wisatawan datang bukan untuk menemukan sesuatu yang sama dengan negara asalnya, melainkan mencari pengalaman yang autentik, unik, dan berbeda,” katanya.
Wawan mencontohkan sejumlah destinasi yang tetap mempertahankan nama lokal sebagai identitas, seperti Ubud, Tanah Lot, Malioboro, hingga kota-kota di Jepang dan Korea Selatan.
”Tidak pernah muncul tuntutan agar seluruh nama tersebut diubah menjadi bahasa Inggris. Sebaliknya, identitas lokal menjadi pembeda yang memperkuat branding destinasi,” ucapnya.
Ia juga menilai anggapan bahwa penggunaan bahasa asing lebih menjual sudah tidak lagi relevan dengan tren pariwisata modern. Menurutnya, wisatawan kini lebih menghargai keaslian budaya dibanding nama-nama yang bersifat umum.
”Dalam konsep Experience Economy, wisatawan modern mencari autentisitas, cerita, adat istiadat, budaya, pengalaman, identitas, dan keunikan. Nama asing yang bersifat generik semakin mudah ditemukan di berbagai negara sehingga kehilangan daya pembeda. Sebaliknya, nama Sunda yang diperkuat dengan narasi sejarah, desain visual, interpretasi budaya, dan storytelling justru memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Yang harus dibangun bukan hanya nama Sunda, tetapi juga cerita di balik nama tersebut” Pungkasnya

Catat! Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda 2026 Digelar Besok di Bandung, Ini Rute dan Jadwal Lengkapnya
Dapatkan berita informasi seputar kota Bandung dan berita terbaru menarik lainnya di Google News. Ikuti Media Sosial KORAN MANDALA untuk update berita pilihan dan breaking news setiap hari.