KORAN MANDALA – Persoalan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan terbatasnya penyerapan tenaga kerja menjadi sorotan di Jawa Barat.
Di tengah masuknya investasi dan perkembangan teknologi industri, penambahan modal belum tentu berbanding lurus dengan terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.
Anggota DPRD Jawa Barat, Tedy Rusmawan, menilai perubahan pola investasi yang semakin mengandalkan teknologi dan otomatisasi turut memengaruhi kebutuhan tenaga kerja di sektor industri.
ADVERTISEMENT
Menurutnya, investasi saat ini cenderung berorientasi pada penguatan modal dan penggunaan mesin dibandingkan industri padat karya yang mampu menyerap banyak pekerja.
“Investasi hari ini bukan kepada padat karya, tetapi kepada modal. Pabrik-pabrik juga sekarang sudah robotisasi dan otomatisasi sedemikian rupa, sehingga untuk sekian mesin itu cukup satu orang pengawas. Sesuatu yang otomatis itu tentu mengurangi kebutuhan tenaga kerja secara langsung,” jelas Tedy Kamis (15/10/2026)
Kondisi tersebut, menurut Tedy, perlu menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menentukan arah pengembangan industri. Pemprov Jabar didorong untuk memperluas sentra industri padat karya di wilayah pengembangan baru, terutama industri garmen dan sepatu.
Salah satu wilayah yang disorot ialah Majalengka, yang berdekatan dengan kawasan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Selain itu, kawasan sekitar Pelabuhan Patimban juga dinilai perlu didorong untuk mengembangkan industri yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Tak hanya menyoroti arah investasi, Tedy juga mempertanyakan efektivitas Badan Pengelola (BP) Rebana dalam menarik investor dan memastikan dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja lokal.
Menurutnya, pengembangan kawasan strategis tersebut perlu diikuti hasil nyata bagi masyarakat Jawa Barat, khususnya dalam membuka kesempatan kerja dan mengurangi persoalan ketenagakerjaan.
“Bagaimana Pak Helmy Yahya yang merupakan Kepala Badan Pengelola Kawasan Rebana, sudah sejauh mana mampu menarik investor dan dampaknya langsung kepada ketenagakerjaan? Ini yang terus kita tanyakan dan dorong agar ketimpangan ketenagakerjaan di Jawa Barat bisa segera teratasi,” tutup Tedy.
Sorotan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan investasi tidak cukup diukur dari besarnya modal yang masuk. Penyerapan tenaga kerja lokal dan pengembangan industri padat karya juga menjadi aspek penting agar pertumbuhan ekonomi Jawa Barat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






