KORANMANDALA.COM –Meningkatnya kasus dugaan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan, khususnya di Kota Bandung, menjadi sorotan serius.
Pengamat Kebijakan Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Cecep Darmawan, menilai rentetan kasus tersebut merupakan peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk segera memperkuat sistem pencegahan di sekolah.
Menurut Cecep, dunia pendidikan seharusnya menjadi ruang yang aman bagi peserta didik untuk belajar dan berkembang. Karena itu, setiap kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan sekolah harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh, baik oleh satuan pendidikan maupun pemerintah daerah.
Polresta Bandung Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Kekerasan Seksual terhadap Anak 13 Tahun di Ciparay
“Kasus-kasus seperti itu tentu sangat memprihatinkan, apalagi terjadi di dunia pendidikan. Ini harus menjadi warning bagi semua pihak, terutama guru, kepala sekolah, dan pemerintah daerah yang memiliki kewenangan dalam pembinaan pendidikan,” kata Cecep saat diwawancarai.
Ia menilai penyebab munculnya kasus kekerasan seksual tidak bisa dilihat dari satu faktor saja. Menurutnya, perlu dilakukan evaluasi mendalam terhadap berbagai aspek yang berpotensi memicu terjadinya kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.
Di antaranya, kata dia, lemahnya pendidikan karakter di sekolah, pengaruh pergaulan bebas yang tidak terkendali, hingga dampak negatif media sosial terhadap perilaku peserta didik.
“Harus dicari penyebabnya apa. Apakah pendidikan karakter di sekolah masih kurang, apakah pengaruh pergaulan bebas yang tidak terkendali, atau dampak media sosial. Semua faktor itu harus dikaji agar ditemukan solusi yang tepat untuk mencegah kasus serupa kembali terjadi,” ujarnya.
Selain upaya pencegahan, Cecep menegaskan pelaku kekerasan seksual juga harus mendapatkan sanksi yang tegas sesuai ketentuan hukum agar memberikan efek jera.
Menurutnya, langkah preventif harus berjalan beriringan dengan penegakan aturan. Sekolah tidak cukup hanya menyelesaikan persoalan secara internal, tetapi juga harus memastikan setiap pelanggaran ditindak sesuai prosedur hukum yang berlaku.
Ia menekankan bahwa penguatan pendidikan karakter menjadi salah satu langkah utama yang harus dilakukan sekolah. Di samping itu, sekolah juga perlu membangun ekosistem pendidikan yang sehat, aman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
“Kerja sama antara sekolah dan orang tua juga harus diperkuat untuk mendidik anak serta menghindarkan mereka dari pengaruh pergaulan bebas maupun dampak negatif media sosial,” katanya.
Menanggapi kasus dugaan pelecehan seksual yang sempat mencuat di salah satu SMP di Kota Bandung, Cecep menilai sekolah harus mengambil langkah tegas baik dari sisi pencegahan maupun penindakan.
Menurutnya, terdapat dua pekerjaan besar yang harus menjadi perhatian dunia pendidikan, yakni mencegah terjadinya kekerasan seksual sekaligus membangun sistem yang mampu mencegah perilaku seksual menyimpang di lingkungan sekolah.
“Kalau terjadi kekerasan seksual, sekolah harus meningkatkan pendidikan karakter, membangun ekosistem sekolah yang baik, dan menerapkan sanksi yang tegas. Dua hal yang harus dilakukan adalah pencegahan terhadap pergaulan bebas dan pencegahan terhadap tindakan kekerasan seksual. Keduanya sama-sama berbahaya,” tegasnya.
Cecep berharap seluruh sekolah tidak menganggap kasus kekerasan seksual sebagai persoalan biasa. Ia menilai dibutuhkan komitmen bersama antara sekolah, orang tua, pemerintah daerah, dan aparat penegak hukum agar lingkungan pendidikan benar-benar menjadi tempat yang aman bagi seluruh peserta didik.
