KORANMANDALA.COM – Ketua RW 12 Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Cecep Zakaria, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi krisis air bersih yang kembali mengancam wilayahnya saat musim kemarau panjang.
Menurut Cecep, saat ini warga belum mengalami kekurangan air yang signifikan karena musim kemarau baru berlangsung. Namun berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, RW 12 menjadi salah satu kawasan yang rawan mengalami kesulitan air bersih ketika kemarau mencapai puncaknya.
“Kalau saat ini memang belum kekurangan air karena kemarau baru berjalan. Tapi biasanya kalau kemarau panjang wilayah kami sering kekurangan air,” kata Cecep, Usai ditemui Kamis (25/6/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar kebutuhan air warga bergantung pada jaringan PDAM. Namun kondisi infrastruktur yang sudah tua menyebabkan sebagian sambungan tidak lagi berfungsi optimal. Selain itu, debit air yang mengalir juga sering menurun drastis.
Akibat pelayanan yang tidak stabil, sebagian warga memilih menghentikan langganan PDAM. Warga menilai tagihan tetap berjalan sementara pasokan air yang diterima tidak lancar.
“Banyak warga yang berpikir daripada pasang PDAM tapi airnya sering tidak mengalir dan tetap ada beban tagihan, akhirnya memilih tidak berlangganan,” ujarnya.
Hal itu dikonfirmasi oleh salah satu warga Sari Dwi, Ia mengungkapkan bahwasannya sudah tidak berlangganan lagi hampir 1 tahun, Karena banyak sekali kendala dan beban yang ia tanggung
“Saya sudah tidak berlangganan PDAM lagi karena pasokan air sering tidak mengalir. Meski begitu, tagihan tetap muncul sehingga menjadi beban dan akhirnya menunggak,” ujar Sari saat dikonfirmasi.
Saat ini sekitar 50 persen warga masih mengandalkan sumur bor, sementara sebagian lainnya menggunakan PDAM dan sarana air bersih yang tersedia di lingkungan setempat. Namun jumlah fasilitas tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan lebih dari 400 kepala keluarga yang tinggal di RW 12.
“Jumlah kepala keluarga di sini lebih dari 400. Sarana air bersih yang ada relatif sedikit sehingga tidak bisa mencukupi seluruh kebutuhan warga,” Ujar Cecep
Ketika pasokan air berkurang, sebagian warga terpaksa membeli air dari penjual air atau pemilik sumur dan jet pump. Harga air berkisar antara Rp1.000 hingga Rp2.000 per jeriken.
“Ketika Puncak Kemarau biasanya warga yang tidak punya air meminta ke tetangga yang berjualan air” lanjutnya.
Untuk mengantisipasi krisis air bersih, pihak RW berupaya mengajukan penambahan sarana air bersih melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dan berbagai program pemerintah lainnya.
“Kami terus mengusulkan penambahan sarana air bersih melalui Musrenbang dan program-program pemerintah yang ada,” katanya.
Cecep berharap pemerintah lebih memperhatikan kawasan padat penduduk yang rentan mengalami kekurangan air bersih, terutama saat musim kemarau panjang.
“Wilayah kami padat penduduk dan sangat rentan mengalami kekurangan air. Kami berharap pihak terkait bisa mengakomodasi kebutuhan warga agar persoalan ini tidak terus berulang setiap tahun,” pungkasnya.
