KORANMANDALA.COM – Kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat diperkirakan hanya mampu menampung sampah hingga Oktober 2026. Proyeksi terbaru tersebut lebih cepat dibandingkan perencanaan awal yang disusun saat perluasan kawasan TPA dilakukan.
Kepala UPTD Pengelolaan Sampah TPA Regional DLH Jawa Barat, Arief Perdana, mengatakan hasil evaluasi menunjukkan kapasitas tampung aktual Sarimukti lebih rendah dibandingkan asumsi yang digunakan dalam Detail Engineering Design (DED).
“Awalnya DED-nya itu daya tampung sekitar 2 juta ton. Untuk sampah 3.000 ton per hari, desainnya seperti itu,” kata Arief. Dikutip Jumat (5/6/2026)
Namun setelah dilakukan perhitungan ulang berdasarkan kondisi lapangan, daya tampung yang tersedia diperkirakan hanya mampu bertahan hingga Oktober tahun depan.
“Setelah dihitung kembali, ternyata kapasitas Sarimukti hanya bisa bertahan sampai Oktober 2026,” ujarnya.
Arief menjelaskan kawasan perluasan Sarimukti sebelumnya dirancang mampu menampung sekitar 2 juta ton sampah dengan asumsi proses penataan dan pemadatan landfill berjalan sesuai standar teknis.
Dalam praktiknya, sejumlah kendala operasional menyebabkan proses pemadatan tidak berlangsung optimal sehingga kapasitas tampung aktual menjadi lebih rendah dari yang direncanakan.
“Sebelumnya kita merencanakan pembatasan 1.500 ton per hari agar bisa bertahan selama dua tahun,” katanya.
Menurutnya, kondisi di lapangan berbeda dengan perencanaan awal karena proses pemadatan dan pembentukan landfill tidak berjalan maksimal.
“Namun, karena upaya pemadatan dan pembentukan landfill kurang optimal, kondisi di lapangan menjadi berbeda,” lanjut Arief.
Ia menerangkan pemadatan yang tidak maksimal membuat ruang pembuangan lebih cepat terisi. Akibatnya, kondisi fisik TPA terlihat hampir penuh meskipun secara perhitungan volume masih berada pada kisaran tertentu.
Situasi tersebut menjadi sinyal bagi pemerintah daerah di Bandung Raya yang selama ini masih bergantung pada Sarimukti sebagai lokasi pembuangan akhir sampah.
Karena itu, Arief menegaskan pengurangan timbulan sampah dari sumber harus segera dilakukan agar beban yang masuk ke Sarimukti dapat ditekan.
“Karena itu Pak Gubernur menyarankan agar kabupaten dan kota melakukan upaya ekstra,” ujarnya.
Ia menilai ketergantungan terhadap Sarimukti tidak dapat terus dipertahankan apabila tidak dibarengi langkah nyata dalam pengurangan sampah di tingkat daerah.
“Kalau hanya mengandalkan Sarimukti terus, buktinya hanya bisa bertahan sampai Oktober 2026. Jadi memang harus ada upaya untuk mengurangi sampah dari sumbernya,” pungkasnya.
