KORANMANDALA.COM –Momentum Hari Kebangkitan Nasional di Jawa Barat menjadi saksi kolaborasi besar antara dunia pendidikan tinggi dan lembaga penyiaran. Sebanyak lebih dari 224 perguruan tinggi swasta (PTS) yang tergabung dalam APTISI Wilayah Jawa Barat dan Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia Bandung menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan KPID Jawa Barat di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM), Selasa (20/5/2026).
Penandatanganan kerja sama tersebut menjadi langkah strategis memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga penyiaran dalam membangun ekosistem informasi yang lebih sehat, edukatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Ketua KPID Jawa Barat, Adiyana Slamet, menegaskan kerja sama tersebut tidak hanya sebatas seremoni, tetapi menjadi ruang kolaborasi nyata yang dapat dimanfaatkan oleh kampus-kampus di Jawa Barat dalam berbagai bidang.
“APTISI men-support KPID, KPID men-support APTISI. Ini mutualisme. Data riset terbaru kami menunjukkan televisi masih ditonton 85,3 persen masyarakat, radio 55,3 persen, sementara media berbasis internet mencapai 99 persen. Artinya, lembaga penyiaran tidak ditinggalkan, hanya perilaku menontonnya bergeser. Maka adaptif itu wajib,” ujarnya.
Ia mengatakan lembaga penyiaran harus mengambil peran penting dalam menghadapi derasnya arus informasi digital yang terus berkembang tanpa batas.
“Ruang-ruang tanpa regulasi itu mengancam psikologi dan ketahanan bangsa. Lembaga penyiaran harus hadir sebagai penahan laju disrupsi teknologi yang membahayakan warga Jawa Barat dan Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, menyatakan dukungan penuh pemerintah terhadap kolaborasi tersebut. Menurutnya, lembaga penyiaran mempunyai posisi strategis dalam menyampaikan berbagai pesan pembangunan kepada masyarakat.
“Pesan pembangunan harus nyambung, dari Jakarta sampai ke desa. Lembaga penyiaran publik, swasta, komunitas, maupun berlangganan, semuanya punya tanggung jawab yang sama. Adaptif terhadap generasi milenial dan Gen Z, tapi juga tetap bisa ditangkap oleh generasi kolot. Yang penting bukan hanya tontonan, tapi tuntunannya,” tegas Herman.
Herman menambahkan media penyiaran juga harus menjadi sarana edukasi yang dapat mendorong masyarakat menjadi lebih mandiri dan produktif.
“Cerdas untuk menolong diri sendiri, cerdas membangun kerja sama, dan rajin. Kalau masyarakat bisa menolong dirinya, keluarganya, tetangganya, maka Jawa Barat Istimewa akan cepat tercapai. Dalam budaya Sunda, itu disebut Panca Waluya: cager, bager, bener, pinter, singer. Kalau sudah begitu, pembangunan bukan lagi berjalan, tapi melompat,” ujarnya.
Ketua APTISI Jawa Barat sekaligus Rektor UNIKOM, Eddy Soeryanto Soegoto, menyebut MoU tersebut sebagai langkah monumental bagi pengembangan pendidikan tinggi dan penyiaran di Jawa Barat.
“APTISI menaungi sekitar 350 perguruan tinggi swasta di Jawa Barat. Antusiasme luar biasa terlihat dari para rektor, ketua, dan direktur yang hadir. Kolaborasi ini akan diimplementasikan dalam tiga pilar pendidikan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Kami siap bahu-membahu mendukung KPID agar lembaga penyiaran menjadi kebanggaan bangsa,” jelasnya.
Ia juga menyoroti perlunya pembaruan regulasi penyiaran yang dinilai perlu menyesuaikan perkembangan teknologi digital.
“Melalui APTISI pusat dan daerah, kami akan ikut menyuarakan perlunya pembaruan regulasi agar lembaga penyiaran bisa menjawab tantangan zaman. Dunia digital bergerak detik demi detik, kecepatannya luar biasa. Kita harus antisipasi dengan aksi nyata, bukan sekadar wacana,” tegasnya.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi jawaban atas kebutuhan adaptasi lembaga penyiaran di tengah perubahan pola konsumsi media masyarakat. Dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, dan KPID, kerja sama tersebut ditargetkan membangun ekosistem penyiaran yang edukatif, adaptif, dan berkelanjutan menuju terwujudnya Jawa Barat Istimewa.
