KORANMANDALA.COM –Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan tren penurunan debit mata air secara luas di Kawasan Bandung Utara (KBU). Kondisi ini dinilai berpotensi mengancam ketahanan air nasional, terutama di wilayah padat penduduk seperti Cekungan Bandung.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sumber Daya Geologi BRIN, Ananta Purwoarminta, dalam studi kasus bertajuk “Hidrogeologi Mata Air Endapan Vulkanik” mengungkapkan bahwa 98 mata air di KBU menunjukkan tren penurunan debit.
Ia menemukan bahwa beberapa sumber air yang telah dimanfaatkan sejak 1921, seperti Mata Air Ciwangun dan Mata Air Cibadak, tercatat terus mengalami penyusutan kapasitas.
Meski Bayarkan Gaji Guru Honorer, DPRD Beri Catatan untuk Pemkot Bandung
Menurut Ananta, penurunan ini berkaitan erat dengan perubahan penggunaan lahan di wilayah tangkapan air. Alih fungsi lahan yang masif mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air hujan, sehingga pasokan air tanah di wilayah Cekungan Bandung ikut terdampak.
“Karakteristik hidrogeologi vulkanik di Bandung Utara sangat unik, di mana air hujan meresap melalui batuan permeabel pada ketinggian 1.200 hingga 1.700 mdpl. Namun efektivitas resapan terganggu akibat hilangnya area resapan alami,” ujar Ananta dalam keterangannya, dikutip Minggu (3/5/2026).
Dalam riset tersebut, BRIN memanfaatkan pendekatan isotop lingkungan dan hidrogeokimia untuk menelusuri asal-usul serta pola aliran air tanah. Hasil kajian ini dinilai penting sebagai dasar penentuan zona lindung yang harus terbebas dari pembangunan fisik.
“Temuan ini menjadi acuan krusial bagi pemerintah dalam menentukan kawasan yang wajib dilindungi demi menjaga keberlanjutan sumber daya air,” katanya.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, BRIN mendorong penerapan teknologi imbuhan buatan guna meningkatkan pengisian ulang air tanah. Metode ini dilakukan melalui pembangunan sumur resapan, biopori, dan parit imbuhan yang dirancang untuk mengarahkan air hujan masuk ke dalam akuifer.
Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga keseimbangan neraca air tanah di tengah berkurangnya area resapan alami.
Ananta juga menekankan pentingnya penyesuaian tata kelola sumber daya yang responsif terhadap perubahan lingkungan, dengan perlindungan zona tangkapan air sebagai prioritas utama guna menjamin keberlanjutan pasokan air bagi masyarakat.
“Sinergi antara riset kebumian dan kebijakan tata ruang yang tepat menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan,” pungkasnya.
