ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Proyek penyatuan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menuai kritik. Ketua Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung atau Bandung Heritage Society, Aji Bimarsono, menilai penyatuan dua tempat itu berpotensi merusak konsep dasar tata ruang dan filosofi kawasan yang telah dirancang sejak awal abad ke-20 tersebut.
Menurut Aji, persoalan utama tidak terletak pada bangunan Gedung Sate, melainkan pada struktur kawasan dan ruang terbuka di sekitarnya.
“Kita tidak bicara mengenai bangunannya, tapi ruang luar bangunan, kawasannya. Taman, ruang terbuka, koridor jalan, itu semua punya konsep dan filosofi sejak awal dirancang,” ujarnya, saat dihubungi, Sabtu (25/4/2026).
ADVERTISEMENT
Aji menjelaskan bahwa kawasan ini dirancang saat Bandung dipersiapkan menjadi ibu kota Hindia Belanda. Kompleks tersebut dibangun sebagai pusat perkantoran departemen teknis pemerintahan kolonial, dengan konsep dua sumbu utama.
Sumbu utara-selatan menghadirkan bangunan-bangunan yang berjejer di kiri dan kanan, sementara di tengahnya terdapat ruang-ruang terbuka yang menjadi pemersatu seluruh kompleks.
Ruang terbuka seperti Gasibu, kata Aji, bersifat independen, bukan milik satu bangunan tertentu. Sehingga menurutnya, penyatuan Gasibu dengan halaman Gedung Sate, justru menyalahi prinsip perancangan asli tersebut.
“Jadi kalau misalnya Gasibu itu digabungkan dengan halaman Gedung Sate, ini kan berarti menyalahi prinsip atau konsep perancangan semula. Karena taman ini sejatinya adalah ruang terbuka yang menjadi istilahnya nomor satu dari keseluruhan bangunan-bangunan yang ada di sekitar poros utara selatan,” jelas Aji.
Kritik juga diarahkan pada rencana penutupan Jalan Diponegoro yang merupakan bagian dari sumbu barat-timur kawasan. Menurut Aji, jalan tersebut dirancang cukup lebar dengan deretan pohon angsana di kiri dan kanannya, menciptakan kesan monumental.
Ia menilai rencana penutupan segmen Jalan Diponegoro di depan Gedung Sate akan memotong poros tersebut dan merusak karakter monumental kawasan.
“Kalau misalnya segmen Jalan Diponegoro depan Gedung Sate ditutup, ini lagi-lagi juga akan merusak konsep sumbu barat-timur dari kawasan ini, karena dia menjadi terbelah si sumbunya itu dan dipotong oleh halaman Gedung Sate,” pungkasnya.
Ia menegaskan, perubahan pada dua elemen tersebut berpotensi menghilangkan nilai warisan budaya yang melekat pada kawasan. Konsep sumbu dan keberadaan ruang terbuka sebagai elemen utama dinilai akan terganggu jika rencana integrasi tetap dijalankan.
Aji mendorong agar rencana tersebut ditinjau ulang. Ia menyarankan agar Gasibu tetap dipertahankan sebagai ruang terbuka yang terpisah dari Gedung Sate, serta Jalan Diponegoro tidak ditutup secara permanen.
“Kalau bisa dihentikan, sebaiknya dihentikan. Kalau tidak, prinsipnya jelas, jangan disatukan Gasibu dengan Gedung Sate dan Jalan Diponegoro jangan ditutup, karena dari segi warisan budaya itu adalah sumbu yang penting pada poros barat-timur” ujarnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






