ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM – Konsep resiliensi dinilai menjadi salah satu kunci dalam membantu pelajar menghadapi tekanan yang semakin kompleks.
Dosen Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Miryam Wedyaswari, menjelaskan resiliensi ini merujuk pada cara individu merespons dan bertahan dalam situasi sulit, termasuk tekanan akademik maupun sosial yang kerap dialami dalam keseharian.
“Resiliensi itu adalah kemampuan menavigasi dan menegosiasi sumber daya-sumber daya untuk menghadapi situasi stres,” ujarnya, saat dihubungi, Selasa (14/4/2026).
ADVERTISEMENT
Ia menerangkan, kemampuan menavigasi berkaitan dengan upaya mengenali kebutuhan serta sumber daya yang dimiliki, baik dari dalam diri maupun dari lingkungan sekitar. Pelajar perlu memahami apa yang dibutuhkan untuk menghadapi tekanan, serta memetakan langkah yang dapat diambil agar tetap mampu mencapai hasil yang diinginkan.
“Hasil yang diinginkan itu misalnya seperti dia tetap berprestasi meskipun stress, dia tetap engage meskipun stress, dia tetap sehat meskipun stress, itu tujuannya,” kata Miryam.
Sementara terkait negosiasi, Miryam menjelaskan kemampuan ini berkaitan dengan upaya menyampaikan kebutuhan diri dan mencari keseimbangan dalam menjalani aktivitas. Dalam praktiknya, kata dia, pelajar dapat berdialog dengan orang tua atau lingkungan terdekat untuk menentukan prioritas yang sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
“Misalnya pelajar merasa membutuhkan aktivitas untuk menyalurkan hobi, lalu dia melakukan tawar menawar sama orang tuanya sampai ditemukan titik temu untuk menjaga kebahagiaan dan keseimbangan pelajar itu tadi,” jelasnya.
Miryam menyampaikan tiga tips untuk membangun resiliensi pada pelajar. Pertama, berpikir reflektif, yaitu mengingat kembali kejadian sehari-hari dan introspeksi sederhana tentang diri sendiri, seperti hobi, kekuatan, serta orang-orang yang mendukung. Proses ini dinilai dapat membantu pelajar memahami dirinya secara lebih utuh.
Kedua, meaning making atau mencari makna dari setiap pengalaman. Menurut dia, proses ini membantu individu belajar dari situasi yang dihadapi, termasuk pengalaman yang menekan.
“Jadi ketika kegiatan itu terjadi kita cari kita bisa belajar apa dari situasi ini, sisi positif apa yang bisa diambil, apa hikmahnya,” kata Miryam.
Ketiga, keberanian untuk terhubung dengan orang lain, termasuk meminta bantuan saat kesulitan. Menurutnya, pelajar perlu didorong untuk berani bercerita, meminta bantuan, dan membangun relasi yang sehat.
“Ketika dalam situasi sulit dan berusaha terkoneksi dengan orang lain, baik itu untuk minta nasihat atau minta tolong, itu bukan tanda kelemahan, tapi justru menunjukkan kemampuan untuk terkoneksi dengan orang lain,” bebernya.
Meski begitu, Miryam menekankan bahwa penguatan resiliensi tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pelajar. Lingkungan sekitar, termasuk keluarga, teman sebaya, pendidik, serta institusi disebut memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang aman bagi pelajar untuk berkembang.
Dalam konteks keluarga, ia mengatakan komunikasi dua arah menjadi hal yang penting. Orang tua dapat mendorong anak untuk menceritakan pengalaman sehari-hari, memahami perasaan yang muncul, serta menggali pelajaran dari setiap kejadian. Pendekatan ini dinilai efektif dalam melatih kemampuan refleksi dan pencarian makna.
“Jadi kuncinya memang ada waktu untuk bertukar cerita sama orang tua, nanti bukan cuma anak yang cerita, orang tuanya juga balas ceritanya. Karena seringkali orang tua udah nanya ke anak-anaknya, tapi udah aja berhenti di situ, jadinya komunikasinya cuma searah,” tuturnya.
Selain itu, peran teman sebaya dinilai tidak kalah penting dalam mendukung resiliensi pelajar. Miryam menjelaskan, dukungan sederhana dari teman dapat membantu pelajar menghadapi situasi sulit.
“Misalnya melihat ada temannya yang sedang kesulitan, yang pertama itu ditemenin, jangan dibiarkan sendiri. Yang kedua adalah diobservasi, kira-kira temannya ini butuh didengerin, butuh cerita atau cuma pengen ditemenin,” lanjutnya.
Sementara itu, di lingkungan sekolah, menurutnya pendidik dapat mengintegrasikan penguatan resiliensi dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran yang memberi ruang bagi siswa untuk berbagi pengalaman dan melakukan refleksi dinilai dapat membantu membangun kesadaran diri serta kemampuan beradaptasi.
“Metode pembelajarannya misalnya dengan berkelompok, berkelompoknya ini juga bukan cuma bagi-bagi tugas, tapi mengajak mereka untuk berbagi pengalamannya,” tambahnya.
Institusi pendidikan, kata Miryam, juga perlu mengedepankan kembali esensi pendidikan untuk menumbuhkan individu menjadi pribadi luhur, bukan sekadar mengejar nilai akademik. Menurutnya, orientasi pendidikan perlu diarahkan pada pengembangan individu secara utuh agar pelajar memiliki kemampuan menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.
“Saya termasuk sebagai dosen dan pendidik kita perlu me-refresh lagi sebenarnya esensi pendidikan itu apa dan kita juga mengevaluasi diri sebagai institusi pendidikan sudahkah memfasilitasi nilai luhur pendidikan itu,” pungkasnya.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






