ADVERTISEMENT
KORANMANDALA.COM –Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di Jawa Barat akan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal. Sebanyak 81 persen wilayah diperkirakan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari rata-rata klimatologis.
Prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Vivi Indhira Purnaningtyas, mengatakan durasi musim kemarau tahun ini bervariasi antara 10 hingga 30 dasarian, dengan satu dasarian setara 10 hari.
“Sebagian besar wilayah di Jawa Barat diprediksi mengalami durasi musim kemarau lebih panjang dari rata-rata klimatologis selama 30 tahun, yaitu terjadi di 81 persen wilayah,” ujarnya dalam Rilis Pers Prediksi Musim Kemarau 2026 Provinsi Jawa Barat, Selasa (14/4/2026).
ADVERTISEMENT
Indri Rindani Masuk Bursa Calon Ketua DPC PKB Kota Bandung, Satu-satunya Perempuan
Ia menjelaskan, distribusi durasi kemarau didominasi kategori menengah. Sekitar 42 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau selama 13 hingga 15 dasarian. Kemudian 22 persen wilayah lainnya diprediksi mengalami kemarau selama 10 hingga 12 dasarian, yang tersebar di wilayah barat, tengah, dan tenggara Jawa Barat.
Sementara itu, sekitar 15 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau selama 16 hingga 18 dasarian, terutama di wilayah utara serta sebagian kecil wilayah tengah dan tenggara. Selain itu, 12 persen wilayah lainnya juga diperkirakan mengalami durasi kemarau yang sama, yakni 16 hingga 18 dasarian, yang tersebar di sebagian kecil wilayah barat dan timur Jawa Barat.
Untuk durasi yang lebih panjang, sekitar 5 persen wilayah diprediksi mengalami kemarau selama 22 hingga 24 dasarian, serta 2 persen wilayah lainnya mencapai 28 hingga 30 dasarian, terutama di sebagian kecil wilayah utara Jawa Barat. Adapun sekitar 2 persen wilayah, seperti Bogor, termasuk dalam tipe satu musim atau tidak mengalami perbedaan tegas antara musim hujan dan kemarau.
Jika dibandingkan dengan kondisi normal, hanya 10 persen wilayah yang diperkirakan mengalami durasi kemarau sesuai rata-rata klimatologis, sementara 7 persen wilayah lainnya justru diprediksi lebih pendek.
Berdasarkan pemantauan hingga dasarian pertama April 2026, BMKG mencatat baru satu zona musim yang telah memasuki kemarau, yakni Bekasi bagian utara, Kota Bekasi bagian utara, dan Karawang bagian utara. Sebanyak 39 zona musim lainnya masih berada pada periode musim hujan, sementara satu zona termasuk tipe satu musim.
BMKG memproyeksikan peralihan menuju musim kemarau akan berlangsung cepat dalam waktu dekat. Awal musim kemarau diperkirakan paling banyak terjadi pada Mei dengan cakupan 56 persen wilayah atau 23 zona musim. Secara keseluruhan, 66 persen wilayah diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat dari kondisi normal.
Selain durasi yang lebih panjang, karakter curah hujan selama musim kemarau juga diprediksi lebih rendah dari biasanya.
“Sifat hujan pada musim kemarau 2026 di sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi bawah normal atau lebih kering dibandingkan kondisi normalnya, yaitu sebanyak 93 persen wilayah,” kata Vivi.
BMKG juga memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus di sekitar 90 persen wilayah Jawa Barat. Sebagian kecil wilayah diprediksi mencapai puncak lebih awal pada Juli dan sebagian lainnya pada September, dengan waktu puncak yang secara umum masih berada dalam kisaran normal klimatologis.
Melihat kondisi tersebut, BMKG mengingatkan perlunya langkah antisipasi dari berbagai sektor. Pengelolaan sumber daya air, penyesuaian pola tanam, serta peningkatan kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan menjadi hal yang perlu diperhatikan guna meminimalkan dampak musim kemarau 2026.
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT






