KORANMANDALA.COM – Sebanyak 62.954 siswa di Kota Bandung terindikasi mengalami gangguan psikologis. Data ini merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh dosen psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba), M. Ilmi Hatta pada tahun 2023/2024.
Dalam riset tersebut, sebanyak 380.151 siswa dari jenjang SD hingga SMA menjalani screening psikologis. Hasilnya, 62.954 siswa teridentifikasi memiliki indikasi gangguan pada level borderline dan abnormal dalam setidaknya satu aspek perkembangan psikologis.
Indikasi gangguan tersebut meliputi sejumlah kategori seperti masalah relasi teman sebaya, perilaku prososial rendah, gangguan emosional, gangguan perilaku, hingga hiperaktivitas.
Menanggapi temuan ini, praktisi sekaligus psikolog pendidikan, Listia Rahmandaru, menilai angka tersebut memang mencerminkan kondisi yang mengkhawatirkan, tetapi tidak bisa disederhanakan dalam satu penyebab tunggal.
“Ini angka yang miris banget ternyata sebanyak itu, tapi ketika berbicara kesehatan mental atau kondisi psikologi seseorang ini kan kompleks,” ujar Listia, saat dihubungi, Kamis (9/4/2026).
Ia menegaskan penyebab fenomena tersebut tidak dapat digeneralisasi. Menurutnya, setiap kasus perlu ditelaah secara mendalam agar menghasilkan pola penanganan yang sesuai.
Listia berpendapat terdapat sejumlah faktor yang bisa memengaruhi kondisi psikologis pada anak dan remaja, seperti pola asuh di rumah hingga pola aktivitas sehari-hari yang dijalani.
Selain itu, Listia menyoroti adanya andil masalah sistemik yang sering luput dari perhatian, seperti tingkat kesejahteraan keluarga. Ia menjelaskan bahwa keluarga yang tidak sejahtera dan kesulitan mendapatkan akses dasar akan lebih mudah mengalami stres, yang kemudian berdampak langsung pada anak-anak mereka.
“Dan bentuk stresnya nanti perilakunya bisa macam-macam seperti yang disebutkan. Entah nanti itu bentuknya jadi masalah pertemanan atau masalah emosi dan lain-lainnya atau mungkin jadi melawan aturan,” katanya.
Ia menambahkan, ritme kehidupan di zaman sekarang yang sangat cepat atau fast-paced turut memengaruhi kondisi tersebut. Banjir informasi dan jadwal aktivitas yang padat, kata dia, membuat banyak individu merasa kewalahan yang pada akhirnya memicu stres.
Kondisi ini diperburuk dengan penggunaan gawai atau gadget yang berlebihan hingga pada tahap adiksi. Listia menyebut dampak dari adiksi gawai ini sangat berpengaruh karena masalah yang ditimbulkan bisa meluas ke berbagai aspek perkembangan psikis anak.
“Jadi memang sangat kompleks, sangat banyak kemungkinan penyebabnya,” tuturnya.
Lebih lanjut, Listia melihat adanya andil pemerintah dalam konteks yang lebih luas, terutama terkait kondisi sosial dan ketersediaan layanan dasar. Menurutnya, ketika tingkat kesejahteraan masyarakat belum terpenuhi, potensi munculnya tekanan psikologis akan semakin besar.
“Ini yang saya sebut tadi sebagai faktor sistemik, ketika masyarakat enggak sejahtera itu kan ada andil tanggung jawab pemerintah juga untuk mendukung masyarakat agar sejahtera, baik itu dari sisi pendidikan maupun kesehatan yang paling dasar,” beber Listia.
Ia menilai hingga saat ini berbagai layanan dasar tersebut masih menghadapi keterbatasan. Begitu pun untuk fasilitas publik yang sifatnya primer maupun sekunder, seperti ruang terbuka yang bisa menunjang aktivitas positif anak dan remaja.
“Jadi kalau ditanya andil pemerintah ya mungkin arahnya ke sana, karena itu balik lagi ketika masyarakat nggak sejahtera, itu kan sangat berisiko untuk bikin stres,” pungkasnya.
Dalam pandangannya, faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan tidak berdiri sendiri. Masalah psikologis pada pelajar sering kali merupakan hasil akumulasi dari berbagai faktor. Oleh karena itu, penanganannya tidak cukup hanya berfokus pada individu, melainkan perlu pendekatan yang lebih menyeluruh dengan melibatkan keluarga, sekolah, dan dukungan sistemik dari pemerintah.
